Kamis, 18 Juni 2015

Ora Et Labora



2 Tesalonika 3 : 1 – 15

Seorang tukang taman yang  lugu memperlihatkan keindahan hasil pekerjaannya  kepada seorang pendeta. Terpana akan  semarak  berbagai jenis bunga dengan aneka warna yang memenuhi taman , secara spontan pendeta itu pun berdoa dan menaikkan puji syukur kepada Tuhan. Tapi tukang taman  itu kurang senang karena melihat  pendeta itu  hanya memuji Tuhan. Ia menggerutu, ‘Anda seharusnya datang kemari sewaktu Tuhan dibiarkan sendiri mengelolanya. Hasilnya hutan belukar!’
Tukang taman itu benar!  Berdoa atas  keindahan alam yang telah Allah ciptakan  bagi manusia, akan lebih bermakna jika manusia turut mengelolanya. Allah memang menyedikan taman, benih, sinar matahari dan hujan, tapi pekerjaan mengelola  agar  taman   tetap indah atau lahan menjadi subur  serta menabur dan menuai adalah bagian manusia.   
            Dalam Kej. 2:15, manusia dimandatkan  tugas  mengusahakan dan mengelola taman eden yang telah Allah ciptakan.  Kata mengusahakan pada  ayat itu, dalam bahasa aslinya, berarti juga bekerja, melayani sesama dan ibadah kepada Tuhan.   Jadi antara   beribadah (berdoa) dan bekerja kaitannya  erat.   Melalui doa dalam  ibadah, kita  menggumuli apa yang akan kita kerjakan, dan mengerjakan apa yang telah kita gumuli.  Karena itu pula kita mengenal semboyan  Ora Et Labora,  artinya Berdoa (beribadah/berbakti) dan bekerja (bekerja keras atau rajin).  
            Kebajikan kristiani  yang memaknai  doa dan kerja sebagai kesatuan, dinampakkan  rasul Paulus dalam surat keduanya kepada Jemaat Tesalonika.  Tesalonika merupakan jemaat  kedua yang didirikan Paulus di Eropa, melalui safari penginjilannya.   Karenanya meski tidak lagi beraktifitas di Tesalonika, lewat suratnya,  Paulus tetap  menyatakan keinginan memelihara iman jemaat. (2 Tes. 2:2). 
            Bagian alkitab  yang menjadi  bahan perenungan saat ini, yakni 2 Tes. 3 : 1– 15, dimulai dengan permohonan Paulus kepada  Jemaat  agar menopang dengan doa usaha  penginjilan yang dilakukannya  bersama rekan  seperjalanan  (Silwanus dan Timotius).   Paulus yakin kekuatan doa  dari orang percaya, akan membuat  pemberitaan Injil, kabar baik  yang dilakukannya akan  beroleh kemajuan dalam arti  makin  tersebar dan dimuliakan atau diterima dengan baik (diperlakukan dengan hormat dengan  mengikuti berita itu dengan setia).  Selain itu melalui  doa juga,  Paulus percaya Allah akan menyelematkan mereka  dari orang jahat. (ay. 1-2).  Keyakinan Paulus itu  didasarkan atas pengalamannya  sewaktu ada di Tesalonika (lih. Kis. 17:1-9).
 Kepada jemaat, Paulus   juga berpesan  agar menjauhkan diri dari orang yang tidak mau bekerja/malas (ay. 6). – Yang dimaksud dengan orang malas dalam konteks bacaan ini ialah, orang yang telah salah memahami pemberitaan tentang  Parousia (kedatangan Kristus kembali). Orang-orang ini telah meninggalkan pekerjaan  dan tuntutan hidup sehari-hari  demi  menantikan kedatangan Kristus sambil berleha-leha menjadi ‘benalu’ bagi orang lain. – Sebab  Paulus sendiri, meski dia seorang Rasul yang sepatutnya  mendapatkan bantuan dari umat yang ia layani, justru tidak bersedia makan roti secara percuma (ay.8). Sebaliknya  ia bekerja keras untuk mencari nafkahnya sendiri dengan membuat tenda (lih. Kis. 18:3).   Dengan  mengutip sebuah pepatah tua Yahudi, Paulus mengingatkan kembali tentang apa yang pernah disampaikannya   sewaktu masih ada di tengah-tengah Jemaat,  ‘jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan’ (ay. 10).
Harap jangan salah mengerti dengan ucapan Rasul Paulus soal ‘orang yang tidak mau bekerja’ tersebut. Alamat dari ungkapan itu bukan kepada orang  yang karena terpaksa jadi pengangguran, melainkan kepada orang yang sukarela menganggur. Bukan kepada orang yang  di PHK karena perusahaan bangkrut atau kelebihan tenaga kerja, melainkan kepada orang malas. Sebaliknya gereja (baik lembaga maupun  orang-perorangan) justru harus turut berpikir dan mencari jalan keluar  untuk menolong sesama  yang karena keadaan terpaksa menjadi pengangguran.  Sebab kalau tidak, omongan saleh tentang gereja sebagai ‘tubuh Kristus’ adalah guyon dan lelucon belaka. Rasul Paulus berkata, ‘…. Janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik’ (ay.13).  
            Kembali ke tema yang diangkat melalui renungan ini, yakni ‘Berdoa dan Bekerja Mendatangkan Kesejahteraan’, maka sepantasnya juga gereja masa kini  memahami kalau surat Rasul Paulus ini sebenarnya  juga dialamatkan kepada kita.  Bahwa kita dalam pengharapan akan Parousia, tetap terpanggil untuk terus beribadah dan menindaklanjutinya  lewat karya, yang salah satunya melalui kerja.  Tuhan memberkati tiap pekerjaan, walaupun upah yang diraih dari tiap pekerjaan itu berbeda jumlahnya. Memang upah atau gaji itu besar artinya, dan bahwa  orang yang memakan gaji buta dan korupsi akan mendapat malu. Namun demikian makna kerja itu sendiri selaku kerja adalah lebih besar artinya dari pada upah atau gaji.   Karena kerja, menurut Jhon Stott, dalam bukunya Isu-Isu Global, adalah  ‘pengeluaran tenaga (manual atau mental atau kedua-duanya) dalam pelayanan terhadap orang lain, yang membuahkan kepuasan diri bagi si pekerja, manfaat bagi masyarakat dan kemuliaan bagi Allah.”   
            Yohanes Calvin, Pembaru Gereja, menekankan bahwa tiap pekerjaan adalah penetapan dan panggilan dari Tuhan. Dengan ungkapan itu, sangat jelas kalau  Calvin menolak anggapan  panggilan Tuhan hanya berlaku bagi pekerjaan rohani. Segala jenis pekerjaan sejauh itu mendatangkan faedah bagi keberlangsungan hidup, merupakan panggilan dari Tuhan. Sebab itu, adalah sebenarnya keliru  untuk menyebut pendeta sebagai hamba Tuhan, sebab semua orang percaya, apapun pekerjaannya, adalah hamba Tuhan. Tidak ada kerja yang hina. Yang hina hanyalah  manusia yang karena malas tidak mau bekerja. Dan yang menghinakan pekerjaan dengan perilaku korupsi.  Amin.  (Stenli Lalamentik)

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar