Seorang tukang taman yang lugu memperlihatkan keindahan hasil pekerjaannya kepada seorang pendeta. Terpana akan semarak berbagai jenis bunga dengan aneka warna yang memenuhi taman , secara spontan pendeta itu pun berdoa dan menaikkan puji syukur kepada Tuhan. Tapi tukang taman itu kurang senang karena melihat pendeta itu hanya memuji Tuhan. Ia menggerutu, ‘Anda seharusnya datang kemari sewaktu Tuhan dibiarkan sendiri mengelolanya. Hasilnya hutan belukar!’
Tukang taman itu benar! Berdoa atas
keindahan alam yang telah Allah ciptakan bagi manusia, akan lebih bermakna jika manusia
turut mengelolanya. Allah memang menyedikan taman, benih, sinar matahari dan
hujan, tapi pekerjaan mengelola agar taman
tetap indah atau lahan menjadi
subur serta menabur dan menuai adalah
bagian manusia.
Dalam Kej. 2:15, manusia dimandatkan tugas mengusahakan
dan mengelola taman eden yang telah Allah ciptakan. Kata mengusahakan pada ayat itu, dalam bahasa aslinya, berarti juga
bekerja, melayani sesama dan ibadah kepada Tuhan. Jadi
antara beribadah (berdoa) dan bekerja
kaitannya erat. Melalui doa dalam ibadah, kita
menggumuli apa yang akan kita kerjakan, dan mengerjakan apa yang telah
kita gumuli. Karena itu pula kita
mengenal semboyan Ora Et Labora, artinya Berdoa (beribadah/berbakti) dan
bekerja (bekerja keras atau rajin).
Kebajikan
kristiani yang memaknai doa dan kerja sebagai kesatuan, dinampakkan rasul Paulus dalam surat keduanya kepada
Jemaat Tesalonika. Tesalonika merupakan
jemaat kedua yang didirikan Paulus di
Eropa, melalui safari penginjilannya. Karenanya meski tidak lagi beraktifitas di
Tesalonika, lewat suratnya, Paulus tetap
menyatakan keinginan memelihara iman
jemaat. (2 Tes. 2:2).
Bagian
alkitab yang menjadi bahan perenungan saat ini, yakni 2 Tes. 3 : 1–
15, dimulai dengan permohonan Paulus kepada
Jemaat agar menopang dengan doa
usaha penginjilan yang dilakukannya bersama rekan
seperjalanan (Silwanus dan
Timotius). Paulus yakin kekuatan doa dari orang percaya, akan membuat pemberitaan Injil, kabar baik yang dilakukannya akan beroleh kemajuan dalam arti makin tersebar
dan dimuliakan atau diterima dengan baik (diperlakukan dengan hormat dengan mengikuti berita itu dengan setia). Selain itu melalui doa juga,
Paulus percaya Allah akan menyelematkan mereka dari orang jahat. (ay. 1-2). Keyakinan Paulus itu didasarkan atas pengalamannya sewaktu ada di Tesalonika (lih. Kis. 17:1-9).
Kepada jemaat, Paulus juga berpesan
agar menjauhkan diri dari orang yang
tidak mau bekerja/malas (ay. 6). – Yang dimaksud dengan orang malas dalam
konteks bacaan ini ialah, orang yang telah salah memahami pemberitaan tentang Parousia (kedatangan Kristus kembali).
Orang-orang ini telah meninggalkan pekerjaan
dan tuntutan hidup sehari-hari
demi menantikan kedatangan
Kristus sambil berleha-leha menjadi ‘benalu’ bagi orang lain. – Sebab Paulus sendiri, meski dia seorang Rasul yang
sepatutnya mendapatkan bantuan dari umat
yang ia layani, justru tidak bersedia makan roti secara percuma (ay.8).
Sebaliknya ia bekerja keras untuk
mencari nafkahnya sendiri dengan membuat tenda (lih. Kis. 18:3). Dengan mengutip
sebuah pepatah tua Yahudi, Paulus mengingatkan kembali tentang apa yang pernah disampaikannya
sewaktu
masih ada di tengah-tengah Jemaat, ‘jika
seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan’ (ay. 10).
Harap jangan salah mengerti
dengan ucapan Rasul Paulus soal ‘orang yang tidak mau bekerja’ tersebut. Alamat
dari ungkapan itu bukan kepada orang
yang karena terpaksa jadi pengangguran, melainkan kepada orang yang
sukarela menganggur. Bukan kepada orang yang
di PHK karena perusahaan bangkrut atau kelebihan tenaga kerja, melainkan
kepada orang malas. Sebaliknya gereja (baik lembaga maupun orang-perorangan) justru harus turut berpikir
dan mencari jalan keluar untuk menolong
sesama yang karena keadaan terpaksa
menjadi pengangguran. Sebab kalau tidak,
omongan saleh tentang gereja sebagai ‘tubuh Kristus’ adalah guyon dan lelucon
belaka. Rasul Paulus berkata, ‘…. Janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik’
(ay.13).
Kembali ke tema yang diangkat melalui
renungan ini, yakni ‘Berdoa dan Bekerja Mendatangkan Kesejahteraan’, maka
sepantasnya juga gereja masa kini memahami
kalau surat Rasul Paulus ini sebenarnya juga dialamatkan kepada kita. Bahwa kita dalam pengharapan akan Parousia,
tetap terpanggil untuk terus beribadah dan menindaklanjutinya lewat karya, yang salah satunya melalui
kerja. Tuhan memberkati tiap pekerjaan,
walaupun upah yang diraih dari tiap pekerjaan itu berbeda jumlahnya. Memang
upah atau gaji itu besar artinya, dan bahwa
orang yang memakan gaji buta dan korupsi akan mendapat malu. Namun
demikian makna kerja itu sendiri selaku kerja adalah lebih besar artinya dari
pada upah atau gaji. Karena kerja,
menurut Jhon Stott, dalam bukunya Isu-Isu Global, adalah ‘pengeluaran tenaga (manual atau mental atau
kedua-duanya) dalam pelayanan terhadap orang lain, yang membuahkan kepuasan
diri bagi si pekerja, manfaat bagi masyarakat dan kemuliaan bagi Allah.”
Yohanes Calvin, Pembaru Gereja,
menekankan bahwa tiap pekerjaan adalah penetapan dan panggilan dari Tuhan.
Dengan ungkapan itu, sangat jelas kalau
Calvin menolak anggapan panggilan
Tuhan hanya berlaku bagi pekerjaan rohani. Segala jenis pekerjaan sejauh itu
mendatangkan faedah bagi keberlangsungan hidup, merupakan panggilan dari Tuhan.
Sebab itu, adalah sebenarnya keliru
untuk menyebut pendeta sebagai hamba Tuhan, sebab semua orang percaya,
apapun pekerjaannya, adalah hamba Tuhan. Tidak ada kerja yang hina. Yang hina
hanyalah manusia yang karena malas tidak
mau bekerja. Dan yang menghinakan pekerjaan dengan perilaku korupsi. Amin. (Stenli
Lalamentik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar