Bersahabat Dengan Barnabas
Oleh : Stenli Lalamentik
Tidak ada kawan sejati, tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah
kepentingan. Ungkapan ini sangat populer di dunia politik, terutama di
Indonesia. Partai politik (Parpol)
yang beroposisi dengan penguasa,
bisa berputar haluan menjadi koalisi jika ada
kepentingan atau keinginan
yang terpenuhi. Sebaliknya koalisi pun bisa pecah kongsi lalu menjadi
oposisi juga jika ada kepentingan yang tidak sejalan.
‘Kepentingan’ apa dan untuk siapa, silakan tanya pada ‘Anggota Dewan yang terhormat’. Jawabannya pasti seragam ‘ya, kepentingan
rakyatlah.’
Tidak ada kawan, tidak ada musuh namun yang
ada hanya kepentingan. Ungkapan ini sebelum
saya menjadi mahasiswa (Anggota Forkat 98), juga pernah dialamatkan kepada Barnabas. Tokoh ini bahkan
masuk ‘blacklist’ sebagai pribadi dalam alkitab yang tidak
saya suka. Alasan ketidak-sukaan saya waktu itu cukup
beralasan. Entah dari mana
sumbernya, setahu saya, ketika dia berpisah dari Paulus, setelah keduanya bertengkar hebat, Barnabas berubah
menjadi seorang ‘pengkhianat Kristen’ dengan
menulis Injil yang kini dikenal dengan nama Injil Barnabas. Isi Injil
ini jauh beda dengan Injil Sinoptik dan
injil Yohanes, bahkan dengan Injil-injil lain yang di tolak dalam kanon alkitab. Injil yang
terdiri dari 222 Pasal itu, bercerita
tentang kisah Yesus namun untuk kepentingan agama Islam.
Benarkah Barnabas seorang
sahabat yang buruk, yakni hanya karena kepentingannya tidak diindahkan Paulus langsung menjadi
penghianat Kristen? Sebelum menjawab
ini, mari kita sedikit berkenalan dengan Barnabas.
Dalam alkitab pemilik nama ini
hanya satu orang. Itu pun bukan nama sebenarnya atau hanya alias, sebab namanya
yang sebenarnya adalah Yusuf . Ia seorang keturunan Lewi dari Siprus (Kis.
4:36). Ia dipanggil Barnabas oleh para
rasul, karena kemurahan hatinya, menjual
ladang miliknya lalu hasilnya
didiakoniakan untuk membantu orang-orang miskin (Lih. Kis.
4:32-37).
Soal gaya hidupnya, Lukas memberi
kesaksian bahwa Barnabas ‘orang yang baik hati, dikuasai Roh Allah serta sangat
percaya kepada Tuhan’ (Kis.11:24, BIMK).
Kesaksian Lukas ini bisa disimpulkan bahwa Barnabas adalah pribadi
yang hangat dan bersahabat.
Barnabas sangat tulus dalam bersahabat
dan tidak setengah-setengah jika menolong orang lain. Paulus
(Nama Yahudi, Saulus) orang yang merasakan indahnya diterima sebagai sahabat
oleh Barnabas. Disaat dia telah
bertobat, lalu memberanikan diri
menemui orang Kristen lainnya di Yerusalem,
bukannya diterima sebagai saudara,
justru Paulus di tolak. Mereka menolak, karena takut dengan
trackrecord Paulus yang buruk,
yaitu penganiaya orang Kristen yang
kejam. Paulus mungkin kecewa dengan
penolakan itu. Tapi kekecewaan itu berubah menjadi harapan, saat Barnabas merangkul dia. Bahkan Barnabas berhasil meyakinkan
para Rasul dan orang percaya lainnya, kalau
Paulus benar-benar telah bertobat
(Kis. 9:26-27). Tidak hanya sampai disitu, disaat potensi Paulus kurang
diperhatikan para Rasul dan namanya hampir terlupakan, Barnabas justru
mencari dan mengikut-sertakannya dalam kegiatan penginjilan di Anthiokia (Kis.
11:25). Barnabas menjadi mentor bagi
Paulus, dan yang paling utama keduanya menjadi sahabat baik. Dibawah didikan
Barnabas, Paulus pun menjadi seorang
penginjil besar, bahkan lebih dikenal dan dikenang dibandingkan
Barnabas.
Sayang kerja-sama pelayanan yang
terbangun rapi dan saling mengisi yang diteladankan oleh kedua rasul ini
berakhir. Keduanya terlibat dalam persoalan yang prinsipil, ‘perselisihan yang
tajam’ (Kis.15:39). Persoalannya yakni tentang
bolehkah si keponakan Barnabas, yakni
Markus (Nama Yahudi, Yohanes)
ikut atau tidak dalam perjalanan penginjilan kedua. Dalam perjalanan penginjilan pertama Barnabas
dan Paulus (mulai Pasal 13 dibalik menjadi Paulus dan Barnabas), Markus
ikut membantu keduanya. Namun Paulus menjadi kecewa
terhadap Markus, ketika dia lebih
memilih kembali ke Yerusalem dari pada melanjutkan perjalanan penginjilan ke Perga di Pamfilia kini wilayah Turki (Kis. 13:13). Bagi Paulus
tindakan Markus sama dengan pengunduan diri. Sebaliknya Barnabas dengan wataknya
yang baik hati itu, berkeras
kalau Markus bisa ikut. Perbedaan
pendapat itu pun berujung pada putusnya hubungan kerja-sama, Barnabas dan
Paulus. Keduanya berpisah, Barnabas
kembali ke kampung halamannya, Siprus
bersama Markus, dan Paulus berjalan
bersama Silas. Setelah pertengkaran itu, nama
Barnabas dan Markus hilang dalam
cerita Kisah Para Rasul.
Kini menjadi pertanyaan, apakah perbedaan pendapat antara
barnabas dan Paulus ini membuat keduanya bermusuhan? Sepintas
jika dihubungkan dengan munculnya Injil
Barnabas, jawabannya otomatis benar. Barnabas seorang penganut ‘tidak ada kawan,
tidak ada musuh namun yang ada hanya kepentingan’. Yang dikemudian hari menjadi
‘pengkhianat’ bagi orang Kristen karena menulis
suatu Injil yang lain. Injil yang berita utamanya bukan lagi soal karya pelayanan Tuhan Yesus, tapi tentang
kedatangan Muhammad, Nabi orang
muslim.
Benarkah Barnabas
orang seperti itu? Jika dirinci
kembali watak Barnabas sejak kemunculan pertamanya dalam Alkitab,
agaknya sangat mustahil kalau dia tipe orang
yang mudah bermusuhan apalagi menjadi seorang pengkhianat.
Kitab Kisah Para Rasul memang tidak lagi memberikan keterangan lebih
lanjut soal hubungan Barnabas dan
Paulus, apakah pernah bertemu atau tidak
pasca perpisahan itu. Tapi dalam surat-suratnya, Paulus
beberapa kali menyebut nama Barnabas dengan penuh rasa hormat. Misalnya
dalam I Kor. 9:6, Paulus menyebut nama
Barnabas, yang dijadikan contoh sebagai pelayan yang mencari nafkahnya sendiri
atau tidak membebani gereja. Atau di Kolose 4:10, Dalam salam penutup kepada Jemaat kolose, Paulus menulis nama Barnabas, untuk
menjelaskan siapa Markus. Bahkan
akhirnya perlakukan Paulus terhadap Markus ikut berubah ketika dia melihat ada
perubahan dalam diri Markus. Paulus meminta Timotius menjemput Markus, karena dia membutuhkan pelayanan
dari Markus. Perubahan Markus bisa
terjadi karena dia mengikuti Barnabas.
Ingat Markus inilah yang dikemudian hari menulis salah satu Injil Sinoptik.
Beberapa uraian ini bisa
memberikan penjelasan, meski hubungan kerja-sama Paulus dan Barnabas
pecah, tapi persahabatan keduanya tidak.
Paulus menghormati persahabatan itu, karena pasti Barnabas juga sama.
Lalu bagaimana dengan Injil
Barnabas? Injil ini tidak ada hubungan
dengan Barnabas. Nama Barnabas sengaja
di catut oleh penulis Injil itu, dengan memakai namanya sebagai penulis, karena
dia melihat ada cela untuk
menggunakan nama itu. Cela itu ialah
pertengkaran Paulus dan Barnabas, yang membuat nama Barnabas hilang dalam Kisah
Para Rasul. Selain itu Injil ini muncul pada
abad 16 dan ditulis dalam bahasa Spanyol dan Italia.
Jadi jelas, Barnabas bukan penganut ‘tidak ada
kawan sejati, tidak ada musuh abadi,
yang ada hanyalah kepentingan’. Sikap
dan wataknya yang rendah hati, murah
hati dan baik hati, membuat ia dikenang
sebagai seorang sahabat yang patut diteladani. Beda pendapat dengan Paulus bukan
berarti keduanya langsung bermusuhan, melainkan saling menghormati. Inilah
salah satu inti dari persahabat, kita boleh
mengungkapkan atau mengeluarkan perasaan kita apa adanya, tanpa harus
menunjukkan sifat munafik, atau pasang senyum buatan. Beda pendapat itu biasa ,
tapi jangan sampai harus bermusuhan,
mendendam apalagi mencelakai. Untuk
bersahabat, kitalah yang harus beritikad menunjukkan kebaikan hati, bukan
menunggu orang yang mulai berbaik hati. Seperti Barnabas, yang lebih dulu
merangkul Paulus. Barnabas seperti itu, karena ia mengharagi namanya. Namanya
adalah hadiah yang diberikan oleh orang-orang yang merasakan pertolongannya. Nama itu berarti ‘anak penghiburan’ atau ‘orang yang
menghibur dan menegur’ (Parakleis).
Nama yang dalam bahasa Aram juga berarti pendamaian. Menarik, nama Barnabas
sepadan dengan peran Roh Kudus yang
kedatangan-Nya dijanjikan Tuhan Yesus, dalam Injil Yohanes 15:26, yakni Roh Penghibur.
(Amin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar