Kamis, 18 Juni 2015

Barnabas



Bersahabat Dengan Barnabas
Oleh : Stenli Lalamentik
Tidak ada kawan sejati,  tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Ungkapan ini sangat populer di dunia politik, terutama di Indonesia.  Partai politik  (Parpol)  yang   beroposisi  dengan  penguasa, bisa berputar haluan  menjadi koalisi  jika ada  kepentingan atau keinginan  yang  terpenuhi. Sebaliknya  koalisi  pun bisa pecah kongsi lalu menjadi oposisi  juga jika  ada kepentingan yang tidak sejalan.
‘Kepentingan’ apa dan untuk siapa, silakan tanya pada  ‘Anggota Dewan yang terhormat’.  Jawabannya pasti seragam  ‘ya,  kepentingan rakyatlah.’

 Tidak ada kawan, tidak ada musuh namun yang ada hanya kepentingan. Ungkapan ini   sebelum saya menjadi mahasiswa (Anggota Forkat 98), juga pernah  dialamatkan kepada Barnabas.  Tokoh  ini  bahkan  masuk   ‘blacklist’ sebagai pribadi dalam alkitab  yang tidak  saya suka.   Alasan ketidak-sukaan saya waktu itu cukup beralasan.  Entah dari mana sumbernya,  setahu saya, ketika  dia berpisah dari  Paulus, setelah keduanya bertengkar hebat,  Barnabas   berubah menjadi seorang ‘pengkhianat Kristen’ dengan  menulis Injil yang kini dikenal dengan nama Injil Barnabas.   Isi Injil ini  jauh beda dengan Injil Sinoptik dan injil Yohanes,  bahkan  dengan Injil-injil lain yang di tolak  dalam kanon alkitab.   Injil yang terdiri dari 222 Pasal itu,  bercerita tentang kisah Yesus namun untuk kepentingan agama Islam. 
Benarkah Barnabas  seorang  sahabat yang buruk, yakni hanya karena kepentingannya  tidak diindahkan Paulus langsung menjadi penghianat Kristen?  Sebelum menjawab ini, mari kita sedikit berkenalan dengan Barnabas.
Dalam alkitab pemilik nama ini hanya satu orang. Itu pun bukan nama sebenarnya atau hanya alias, sebab namanya yang sebenarnya  adalah Yusuf . Ia  seorang keturunan Lewi dari Siprus (Kis. 4:36).  Ia dipanggil Barnabas oleh para rasul, karena kemurahan hatinya,  menjual ladang miliknya lalu hasilnya  didiakoniakan untuk membantu orang-orang miskin (Lih. Kis. 4:32-37). 
Soal gaya hidupnya, Lukas memberi kesaksian bahwa Barnabas ‘orang yang baik hati, dikuasai Roh Allah serta sangat percaya kepada Tuhan’ (Kis.11:24, BIMK).  Kesaksian Lukas ini bisa disimpulkan bahwa Barnabas adalah pribadi yang  hangat dan bersahabat. 
Barnabas sangat tulus dalam bersahabat dan tidak setengah-setengah jika menolong orang lain.   Paulus (Nama Yahudi, Saulus) orang yang  merasakan indahnya diterima sebagai sahabat oleh Barnabas. Disaat dia  telah bertobat, lalu  memberanikan diri menemui  orang Kristen lainnya  di Yerusalem,  bukannya diterima sebagai saudara,  justru Paulus di tolak. Mereka menolak, karena  takut dengan  trackrecord Paulus yang buruk, yaitu  penganiaya orang Kristen yang kejam. Paulus mungkin  kecewa dengan penolakan itu. Tapi kekecewaan itu berubah menjadi harapan,  saat Barnabas  merangkul dia. Bahkan Barnabas berhasil meyakinkan para Rasul dan orang percaya lainnya, kalau  Paulus  benar-benar telah bertobat (Kis. 9:26-27). Tidak hanya sampai disitu, disaat potensi Paulus kurang diperhatikan para Rasul dan namanya hampir terlupakan, Barnabas justru mencari  dan mengikut-sertakannya  dalam kegiatan penginjilan di Anthiokia (Kis. 11:25).  Barnabas menjadi mentor bagi Paulus, dan yang paling utama keduanya menjadi sahabat baik. Dibawah didikan Barnabas, Paulus pun menjadi seorang  penginjil besar, bahkan lebih dikenal dan dikenang dibandingkan Barnabas.
Sayang kerja-sama pelayanan yang terbangun rapi dan saling mengisi yang diteladankan oleh kedua rasul ini berakhir. Keduanya terlibat dalam persoalan yang prinsipil, ‘perselisihan yang tajam’ (Kis.15:39). Persoalannya  yakni  tentang  bolehkah si keponakan Barnabas, yakni  Markus (Nama Yahudi, Yohanes) ikut atau tidak dalam perjalanan penginjilan kedua.  Dalam perjalanan penginjilan pertama Barnabas dan Paulus (mulai Pasal 13 dibalik menjadi Paulus dan Barnabas), Markus ikut  membantu  keduanya. Namun Paulus menjadi kecewa terhadap Markus, ketika  dia lebih memilih kembali ke Yerusalem dari pada melanjutkan perjalanan penginjilan  ke Perga di Pamfilia  kini wilayah Turki (Kis. 13:13). Bagi Paulus tindakan Markus sama dengan pengunduan diri. Sebaliknya Barnabas dengan  wataknya  yang baik hati itu,  berkeras kalau Markus bisa ikut.  Perbedaan pendapat itu pun berujung pada putusnya hubungan kerja-sama, Barnabas dan Paulus. Keduanya berpisah, Barnabas   kembali ke kampung halamannya, Siprus  bersama Markus, dan Paulus  berjalan bersama Silas. Setelah pertengkaran itu, nama  Barnabas dan Markus  hilang dalam cerita Kisah Para Rasul.
Kini menjadi  pertanyaan, apakah perbedaan pendapat antara barnabas dan Paulus ini membuat keduanya bermusuhan?   Sepintas jika dihubungkan dengan munculnya  Injil Barnabas,  jawabannya otomatis  benar.   Barnabas seorang penganut ‘tidak ada kawan, tidak ada musuh namun yang ada hanya kepentingan’. Yang dikemudian hari menjadi ‘pengkhianat’ bagi orang Kristen karena  menulis suatu Injil  yang lain.  Injil yang berita utamanya bukan lagi  soal karya pelayanan Tuhan Yesus, tapi  tentang  kedatangan  Muhammad, Nabi orang muslim.   
 Benarkah   Barnabas  orang seperti itu?  Jika dirinci  kembali watak Barnabas sejak kemunculan pertamanya dalam Alkitab, agaknya sangat mustahil  kalau dia tipe orang yang mudah bermusuhan apalagi menjadi seorang pengkhianat.
Kitab Kisah Para Rasul  memang tidak lagi memberikan keterangan lebih lanjut soal  hubungan Barnabas dan Paulus, apakah pernah bertemu atau tidak  pasca perpisahan itu.  Tapi  dalam surat-suratnya,  Paulus  beberapa kali menyebut nama Barnabas dengan penuh rasa hormat. Misalnya dalam I Kor. 9:6,  Paulus menyebut nama Barnabas, yang dijadikan contoh sebagai pelayan yang mencari nafkahnya sendiri atau tidak membebani gereja. Atau di Kolose 4:10, Dalam  salam penutup kepada Jemaat kolose,  Paulus menulis nama Barnabas, untuk menjelaskan siapa Markus.  Bahkan akhirnya perlakukan Paulus terhadap Markus ikut berubah ketika dia melihat ada perubahan dalam diri Markus. Paulus meminta Timotius  menjemput Markus, karena dia membutuhkan pelayanan dari Markus.  Perubahan Markus bisa terjadi karena  dia mengikuti Barnabas. Ingat Markus inilah yang dikemudian hari menulis salah satu Injil Sinoptik.
Beberapa uraian ini bisa memberikan penjelasan, meski hubungan kerja-sama Paulus dan Barnabas pecah,  tapi persahabatan keduanya tidak. Paulus menghormati persahabatan itu, karena pasti Barnabas juga sama.
Lalu bagaimana dengan Injil Barnabas?  Injil ini tidak ada hubungan dengan Barnabas.  Nama Barnabas sengaja di catut oleh penulis Injil itu, dengan memakai namanya sebagai penulis, karena dia melihat ada cela  untuk menggunakan  nama itu. Cela itu ialah pertengkaran Paulus dan Barnabas, yang membuat nama Barnabas hilang dalam Kisah Para Rasul. Selain itu Injil ini muncul pada  abad 16 dan ditulis dalam bahasa Spanyol dan Italia.
Jadi  jelas, Barnabas bukan penganut ‘tidak ada kawan sejati,  tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan’.  Sikap dan wataknya  yang rendah hati, murah hati  dan baik hati, membuat ia dikenang sebagai seorang sahabat yang patut diteladani. Beda pendapat dengan Paulus bukan berarti keduanya langsung bermusuhan, melainkan saling menghormati. Inilah salah satu inti dari persahabat, kita boleh  mengungkapkan atau mengeluarkan perasaan kita apa adanya, tanpa harus menunjukkan sifat munafik, atau pasang senyum buatan. Beda pendapat itu biasa , tapi  jangan sampai harus bermusuhan, mendendam apalagi mencelakai.  Untuk bersahabat, kitalah yang harus beritikad menunjukkan kebaikan hati, bukan menunggu orang yang mulai berbaik hati. Seperti Barnabas, yang lebih dulu merangkul Paulus. Barnabas seperti itu, karena ia mengharagi namanya. Namanya adalah hadiah yang diberikan oleh orang-orang yang merasakan pertolongannya.  Nama itu  berarti ‘anak penghiburan’ atau ‘orang yang menghibur dan menegur’ (Parakleis). Nama yang dalam bahasa Aram juga berarti pendamaian. Menarik, nama Barnabas sepadan dengan peran  Roh Kudus yang kedatangan-Nya dijanjikan Tuhan Yesus, dalam Injil Yohanes 15:26, yakni Roh Penghibur. (Amin)

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar