Senin, 22 Juni 2015

Bijak Mengelola Kekayaan



Bacaan Alkitab           : Lukas `12 : 13 - 21
Oleh                            : Stenli Lalamentik


Jika mendengar nama raja Midas, kita  pasti akan langsung menghubungkannya dengan cerita berjudul ‘Sentuhan Emas’. Dalam Mitologi Yunani,  Midas adalah penguasa  Pessinos, salah satu kota di Frigia. Midas  terkenal  karena obsesinya yang tinggi terhadap emas. Dia akan melakukan apapun demi mimpinya memiliki  seluruh emas di dunia.
Suatu kali Bachus, dewa yang bisa menyihir  benda menjadi emas, sedang bingung  karena gurunya yang sudah tua, bernama Silenos hilang. Silenos adalah satir atau mahluk  setengah manusia setengah binatang, yang sering lupa diri jika berhadapan dengan minuman keras (miras) dan wanita cantik.
Midas yang tahu  peristiwa itu, langsung melihatnya sebagai peluang emas. Pikirnya, jika berhasil menemukan Silenos,  pasti akan dihadiahi banyak emas oleh Dewa Bachus.  Maka  diperintahnya seluruh  penduduk kota  mencari Silenos. Usahanya berhasil. Silenos ditemukan para petani di kebun  milik Raja Midas, dalam keadaan mabuk dan tak tahu jalan pulang.  
Dihiburnya  Silenos,  dengan pesta  10 hari 10 malam. Disediakan pula miras dan wanita cantik bagi Silenos.   Ketika  pesta usai, Midas pun mengantar Silenos kepada Dewa Bachus dengan harapan mendapat hadiah emas. Pikiran Midas tiba-tiba saja berubah, saat mengembalikan Silenos kepada Bachus. Ia tidak lagi ingin meminta emas, tapi meminta kekuatan supaya diberi kemampuan membuat emas hanya dengan sentuhan. Dewa Bachus  menyanggupinya. 
 Midas  yang tidak sabar dengan kemampuan baru itu, langsung  mempraktekkannya saat tiba di istana.  Satu persatu benda  di sentuhnya. Ajaib! Semuanya menjadi emas. Istananya pun berkilauan.  Sibuk  dengan ‘sentuhan emas’  membuat Midas lapar. Diambilnya buah-buahan yang tersedia di meja untuk dimakan. Apa yang terjadi? Buah yang dipegang itu  berubah  jadi emas.  Makanan lainnya, yang disentuh juga menjadi emas.  Ia menjadi takut dan lapar.  Dalam keadaan yang masih panik, datang putri  kesayangan yang langsung memeluknya. Anak itu pun berubah menjadi emas.  Obesesi Midas ternyata mencelakakan dirinya. Ia menjadi kaya tapi sengsara.  

Mengejar emas tidaklah  tabu. Menjadi  kaya bukan pula dosa.  Hanya  janganlah hati kita  melekat pada kekayaan.   Artinya terlalu sibuk mengejar emas (kekayaan) hingga melupakan Tuhan, Sang Pemberi Kekuatan kepada kita untuk bekerja dan  meraih emas (kekayaan).    Arthur Shcopenhauer, Filsuf  asal Jerman  berkata,  emas itu adalah ibarat air laut, semakin banyak diminum semakin haus orangnya.  
Soal  obesesi terhadap kekayaan/emas dan juga uang, Rasul  Paulus  mengingatkan kita,  ‘akar segala kejahatan ialah cinta uang’ (I Tim. 6:10).  Mempercayakan diri pada kekayaan/uang/emas  hanya akan menjerumuskan orang dalam  ketamakan. Orang yang tamak sama  dengan  orang   serakah,  pelit dan  lupa diri (lupa teman, saudara dan Tuhan).   Bahkan dalam Kolose 3:5 diidentikkan dengan penyembah berhala.
Tuhan Yesus dalam cerita Lukas 12 : 13 – 21, mengecam seseorang karena ketamakannya.   Dikisahkan saat  sedang mengajar diantara  rombongan orang banyak,  tiba-tiba salah seorang  dari rombongan itu, berbicara pada Tuhan Yesus soal harta warisan. Ia meminta Tuhan Yesus, supaya berbicara dengan saudaranya soal harta warisan.  Dalam tradisi Yahudi, seorang guru (rabi) bisa bertindak sebagai hakim dalam masalah harta milik.  Yesus tidak menyanggupinya,  karena ada motivasi yang tidak baik di balik permintaan itu, yakni  ketamakan.  Yesus  berkata  "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Ay. 15). 
Dari pernyataan  itu  bisa diketahui  kenapa Tuhan Yesus menolak permintaan orang tersebut.  Yang pertama, mungkin karena orang ini tidak puas dengan harta yang telah ia terima sebagai warisan. Dalam  aturan agama Yahudi,  seorang kakak akan menerima harta warisan dua kali lipat lebih besar dari adiknya (Ul. 21:17). Ia  menginginkan harta dalam jumlah yang besar dari saudaranya, (mungkin kakaknya).  Yesus tidak mau melayani, sebaliknya menolak orang yang serakah.  Yang kedua, karena orang itu tidak bijak dalam mengelola kekayaan.
Dalam kaitan dengan kecaman  terhadap bahaya dari ketamakan dan  petunjuk  tentang mengelola kekayaan, Yesus  pun melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan tentang  seseorang yang teramat sangat kaya.  Orang itu menjadikan kekayaan  ibarat  ‘juru selamat’ bagi hidupnya. “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (ay. 19).   Mempercayakan diri pada kekayaan   ternyata tidak membuat orang itu kaya di hadapan Allah. Sebaliknya  mempercayakan diri kepada kekayaan adalah kebodohan yang mendatangkan maut. 

Harta yang kita miliki di dunia tidak akan dibawa mati. Kita pun tidak akan diberkati jika terus  hidup dalam  ketamakan atau keserakahan. Karena ketamakan atau keserakahan  menghalang-halangi hati kita untuk mengasihi Allah dan memenjarakannya dalam cinta uang.
Karenanya bijaklah dalam mengelola kekayaan. Caranya? Hiduplah dalam rasa cukup.  “Ibadah (pengenalan akan Allah dalam Yesus Kristus) yang  disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (I. Tim. 6:6). Keuntungan besar yang dimaksud ialah kelimpahan dalam kemurahan hati.  Prinsip kemurahan hati, oleh penulis Surat I Yohanes  diekspresikan sebagai berikut,   “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? “ (1 Yoh. 3:17). Amin… 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar