Bacaan Alkitab :
Lukas `12 : 13 - 21
Oleh :
Stenli Lalamentik
Jika mendengar nama raja Midas, kita pasti akan langsung menghubungkannya dengan cerita berjudul ‘Sentuhan Emas’. Dalam Mitologi Yunani, Midas adalah penguasa Pessinos, salah satu kota di Frigia. Midas terkenal karena obsesinya yang tinggi terhadap emas. Dia akan melakukan apapun demi mimpinya memiliki seluruh emas di dunia.
Suatu kali Bachus, dewa yang bisa
menyihir benda menjadi emas, sedang
bingung karena gurunya yang sudah tua,
bernama Silenos hilang. Silenos adalah satir atau mahluk setengah manusia setengah binatang, yang
sering lupa diri jika berhadapan dengan minuman keras (miras) dan wanita
cantik.
Midas yang tahu peristiwa itu, langsung melihatnya sebagai
peluang emas. Pikirnya, jika berhasil menemukan Silenos, pasti akan dihadiahi banyak emas oleh Dewa
Bachus. Maka diperintahnya seluruh penduduk kota mencari Silenos. Usahanya berhasil. Silenos
ditemukan para petani di kebun milik Raja
Midas, dalam keadaan mabuk dan tak tahu jalan pulang.
Dihiburnya Silenos, dengan pesta 10 hari 10 malam. Disediakan pula miras dan
wanita cantik bagi Silenos. Ketika pesta
usai, Midas pun mengantar Silenos kepada Dewa Bachus dengan harapan mendapat
hadiah emas. Pikiran Midas tiba-tiba saja berubah, saat mengembalikan Silenos
kepada Bachus. Ia tidak lagi ingin meminta emas, tapi meminta kekuatan supaya
diberi kemampuan membuat emas hanya dengan sentuhan. Dewa Bachus menyanggupinya.
Midas yang tidak sabar dengan kemampuan baru itu,
langsung mempraktekkannya saat tiba di
istana. Satu persatu benda di sentuhnya. Ajaib! Semuanya menjadi emas.
Istananya pun berkilauan. Sibuk dengan ‘sentuhan emas’ membuat Midas lapar. Diambilnya buah-buahan
yang tersedia di meja untuk dimakan. Apa yang terjadi? Buah yang dipegang
itu berubah jadi emas. Makanan lainnya, yang disentuh juga menjadi
emas. Ia menjadi takut dan lapar. Dalam keadaan yang masih panik, datang putri kesayangan yang langsung memeluknya. Anak itu
pun berubah menjadi emas. Obesesi Midas
ternyata mencelakakan dirinya. Ia menjadi kaya tapi sengsara.
Mengejar emas tidaklah tabu. Menjadi kaya bukan pula dosa. Hanya janganlah
hati kita melekat pada kekayaan. Artinya
terlalu sibuk mengejar emas (kekayaan) hingga melupakan Tuhan, Sang Pemberi
Kekuatan kepada kita untuk bekerja dan
meraih emas (kekayaan). Arthur Shcopenhauer, Filsuf asal Jerman
berkata, emas itu adalah ibarat
air laut, semakin banyak diminum semakin haus orangnya.
Soal obesesi terhadap kekayaan/emas dan juga uang,
Rasul Paulus mengingatkan kita, ‘akar segala kejahatan ialah cinta uang’ (I
Tim. 6:10). Mempercayakan diri pada
kekayaan/uang/emas hanya akan menjerumuskan
orang dalam ketamakan. Orang yang tamak
sama dengan orang serakah,
pelit dan lupa diri (lupa teman,
saudara dan Tuhan). Bahkan dalam Kolose 3:5 diidentikkan dengan
penyembah berhala.
Tuhan Yesus dalam cerita Lukas 12
: 13 – 21, mengecam seseorang karena ketamakannya. Dikisahkan saat sedang mengajar diantara rombongan orang banyak, tiba-tiba salah seorang dari rombongan itu, berbicara pada Tuhan
Yesus soal harta warisan. Ia meminta Tuhan Yesus, supaya berbicara dengan
saudaranya soal harta warisan. Dalam
tradisi Yahudi, seorang guru (rabi) bisa bertindak sebagai hakim dalam masalah
harta milik. Yesus tidak menyanggupinya, karena ada motivasi yang tidak baik di balik
permintaan itu, yakni ketamakan. Yesus berkata
"Berjaga-jagalah
dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang
berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya
itu." (Ay. 15).
Dari pernyataan itu bisa
diketahui kenapa Tuhan Yesus menolak
permintaan orang tersebut. Yang pertama, mungkin karena orang ini tidak
puas dengan harta yang telah ia terima sebagai warisan. Dalam aturan agama Yahudi, seorang kakak akan menerima harta warisan dua
kali lipat lebih besar dari adiknya (Ul. 21:17). Ia menginginkan harta dalam jumlah yang besar
dari saudaranya, (mungkin kakaknya). Yesus
tidak mau melayani, sebaliknya menolak orang yang serakah. Yang kedua,
karena orang itu tidak bijak dalam mengelola kekayaan.
Dalam kaitan dengan kecaman terhadap bahaya dari ketamakan dan petunjuk
tentang mengelola kekayaan, Yesus
pun melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang teramat sangat kaya. Orang itu menjadikan kekayaan ibarat
‘juru selamat’ bagi hidupnya. “Jiwaku, ada padamu banyak barang,
tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan
bersenang-senanglah! (ay. 19).
Mempercayakan diri pada kekayaan
ternyata tidak membuat orang itu kaya di hadapan Allah. Sebaliknya mempercayakan diri kepada kekayaan adalah
kebodohan yang mendatangkan maut.
Harta yang kita miliki di dunia tidak akan dibawa mati.
Kita pun tidak akan diberkati jika terus
hidup dalam ketamakan atau
keserakahan. Karena ketamakan atau keserakahan
menghalang-halangi hati kita untuk mengasihi Allah dan memenjarakannya
dalam cinta uang.
Karenanya
bijaklah dalam mengelola kekayaan. Caranya? Hiduplah dalam rasa cukup. “Ibadah (pengenalan akan Allah dalam Yesus
Kristus) yang disertai rasa cukup,
memberi keuntungan besar” (I. Tim. 6:6). Keuntungan besar yang dimaksud ialah kelimpahan
dalam kemurahan hati. Prinsip kemurahan
hati, oleh penulis Surat I Yohanes diekspresikan sebagai berikut, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan
melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap
saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? “ (1
Yoh. 3:17). Amin…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar