Senin, 22 Juni 2015

Bijak Mengelola Kekayaan



Bacaan Alkitab           : Lukas `12 : 13 - 21
Oleh                            : Stenli Lalamentik


Jika mendengar nama raja Midas, kita  pasti akan langsung menghubungkannya dengan cerita berjudul ‘Sentuhan Emas’. Dalam Mitologi Yunani,  Midas adalah penguasa  Pessinos, salah satu kota di Frigia. Midas  terkenal  karena obsesinya yang tinggi terhadap emas. Dia akan melakukan apapun demi mimpinya memiliki  seluruh emas di dunia.
Suatu kali Bachus, dewa yang bisa menyihir  benda menjadi emas, sedang bingung  karena gurunya yang sudah tua, bernama Silenos hilang. Silenos adalah satir atau mahluk  setengah manusia setengah binatang, yang sering lupa diri jika berhadapan dengan minuman keras (miras) dan wanita cantik.
Midas yang tahu  peristiwa itu, langsung melihatnya sebagai peluang emas. Pikirnya, jika berhasil menemukan Silenos,  pasti akan dihadiahi banyak emas oleh Dewa Bachus.  Maka  diperintahnya seluruh  penduduk kota  mencari Silenos. Usahanya berhasil. Silenos ditemukan para petani di kebun  milik Raja Midas, dalam keadaan mabuk dan tak tahu jalan pulang.  
Dihiburnya  Silenos,  dengan pesta  10 hari 10 malam. Disediakan pula miras dan wanita cantik bagi Silenos.   Ketika  pesta usai, Midas pun mengantar Silenos kepada Dewa Bachus dengan harapan mendapat hadiah emas. Pikiran Midas tiba-tiba saja berubah, saat mengembalikan Silenos kepada Bachus. Ia tidak lagi ingin meminta emas, tapi meminta kekuatan supaya diberi kemampuan membuat emas hanya dengan sentuhan. Dewa Bachus  menyanggupinya. 
 Midas  yang tidak sabar dengan kemampuan baru itu, langsung  mempraktekkannya saat tiba di istana.  Satu persatu benda  di sentuhnya. Ajaib! Semuanya menjadi emas. Istananya pun berkilauan.  Sibuk  dengan ‘sentuhan emas’  membuat Midas lapar. Diambilnya buah-buahan yang tersedia di meja untuk dimakan. Apa yang terjadi? Buah yang dipegang itu  berubah  jadi emas.  Makanan lainnya, yang disentuh juga menjadi emas.  Ia menjadi takut dan lapar.  Dalam keadaan yang masih panik, datang putri  kesayangan yang langsung memeluknya. Anak itu pun berubah menjadi emas.  Obesesi Midas ternyata mencelakakan dirinya. Ia menjadi kaya tapi sengsara.  

Mengejar emas tidaklah  tabu. Menjadi  kaya bukan pula dosa.  Hanya  janganlah hati kita  melekat pada kekayaan.   Artinya terlalu sibuk mengejar emas (kekayaan) hingga melupakan Tuhan, Sang Pemberi Kekuatan kepada kita untuk bekerja dan  meraih emas (kekayaan).    Arthur Shcopenhauer, Filsuf  asal Jerman  berkata,  emas itu adalah ibarat air laut, semakin banyak diminum semakin haus orangnya.  
Soal  obesesi terhadap kekayaan/emas dan juga uang, Rasul  Paulus  mengingatkan kita,  ‘akar segala kejahatan ialah cinta uang’ (I Tim. 6:10).  Mempercayakan diri pada kekayaan/uang/emas  hanya akan menjerumuskan orang dalam  ketamakan. Orang yang tamak sama  dengan  orang   serakah,  pelit dan  lupa diri (lupa teman, saudara dan Tuhan).   Bahkan dalam Kolose 3:5 diidentikkan dengan penyembah berhala.
Tuhan Yesus dalam cerita Lukas 12 : 13 – 21, mengecam seseorang karena ketamakannya.   Dikisahkan saat  sedang mengajar diantara  rombongan orang banyak,  tiba-tiba salah seorang  dari rombongan itu, berbicara pada Tuhan Yesus soal harta warisan. Ia meminta Tuhan Yesus, supaya berbicara dengan saudaranya soal harta warisan.  Dalam tradisi Yahudi, seorang guru (rabi) bisa bertindak sebagai hakim dalam masalah harta milik.  Yesus tidak menyanggupinya,  karena ada motivasi yang tidak baik di balik permintaan itu, yakni  ketamakan.  Yesus  berkata  "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Ay. 15). 
Dari pernyataan  itu  bisa diketahui  kenapa Tuhan Yesus menolak permintaan orang tersebut.  Yang pertama, mungkin karena orang ini tidak puas dengan harta yang telah ia terima sebagai warisan. Dalam  aturan agama Yahudi,  seorang kakak akan menerima harta warisan dua kali lipat lebih besar dari adiknya (Ul. 21:17). Ia  menginginkan harta dalam jumlah yang besar dari saudaranya, (mungkin kakaknya).  Yesus tidak mau melayani, sebaliknya menolak orang yang serakah.  Yang kedua, karena orang itu tidak bijak dalam mengelola kekayaan.
Dalam kaitan dengan kecaman  terhadap bahaya dari ketamakan dan  petunjuk  tentang mengelola kekayaan, Yesus  pun melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan tentang  seseorang yang teramat sangat kaya.  Orang itu menjadikan kekayaan  ibarat  ‘juru selamat’ bagi hidupnya. “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (ay. 19).   Mempercayakan diri pada kekayaan   ternyata tidak membuat orang itu kaya di hadapan Allah. Sebaliknya  mempercayakan diri kepada kekayaan adalah kebodohan yang mendatangkan maut. 

Harta yang kita miliki di dunia tidak akan dibawa mati. Kita pun tidak akan diberkati jika terus  hidup dalam  ketamakan atau keserakahan. Karena ketamakan atau keserakahan  menghalang-halangi hati kita untuk mengasihi Allah dan memenjarakannya dalam cinta uang.
Karenanya bijaklah dalam mengelola kekayaan. Caranya? Hiduplah dalam rasa cukup.  “Ibadah (pengenalan akan Allah dalam Yesus Kristus) yang  disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (I. Tim. 6:6). Keuntungan besar yang dimaksud ialah kelimpahan dalam kemurahan hati.  Prinsip kemurahan hati, oleh penulis Surat I Yohanes  diekspresikan sebagai berikut,   “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? “ (1 Yoh. 3:17). Amin… 


Jumat, 19 Juni 2015

GMIM Eben Haezar Motoling Menuju ke-HUT 166


 


GMIM Eben Haezar  Motoling Menuju ke-HUT 166
Dodoku, Motoling – Jemaat GMIM Eben Haezar Motoling, Wilayah Motoling,  pada tahun 2015 ini,  akan  berusia   166  tahun. Berkaitan dengan  Hari Ulang Tahun (HUT)  yang akan dirayakan pada 24 September 2015 mendatang,  telah lakukan pelantikan  Tim Kerja pada Minggu  07 Juni, di gedung Gereja GMIM Eben Haezar. Pelantikan tim kerja yang di ketuai  Reynald Pangaila SH, itu dilakukan lewat ibadah yang dilayani Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) Motoling yang  sekaligus Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) Eben Haezar, Pdt. Johanis Maxi Lumi,  STh.   
Usai ibadah pelantikan, kepada DODOKU, Pdt. Maxi menjelaskan perayaan HUT ke 166 ini  bisa dibilang sangat spesial.  Sebab ini untuk  kali pertama bagi Jemaat GMIM Eben Haezar melaksanakan syukuran HUT Jemaat. “Sejak jemaat ini berdiri, belum pernah sekalipun dilaksanakan perayaan HUT Jemaat. Padahal dalam kurun waktu 166 tahun itu, banyak hal yang telah di hadirkan gereja ini dalam tugas pelayanan, termasuk kehadiran warganya dalam berbagai aktifitas kehidupan bergereja dan bernegara,” katanya.
Soal penetapan  usia Jemaat, menurut Pdt Maxi, didasarkan pada pembaptisan pertama seorang warga Desa Motoling yang dilakukan pada  tahun 1849 di Kumelembuai, yang dulunya merupakan satu klasis dengan Motoling.  Sedangkan mengenai  siapa yang membaptis dan  bulan apa pembaptisan pertama itu dilayankan,  Pdt. Maxi mengaku masih akan dilakukan kajian sejarah yang lebih mendalam.  “Kami memilih kegiatan pada Bulan September, sebab sumber terbanyak mengatakan pembaptisan dilakukan bulan itu. Sementara soal dilaksanakan tanggal 24 September, karena hari itu bertepatan dengan  libur nasional,” jelasnya.
Pdt. Maxi menambahkan, BPMJ berharap kegiatan ini semarak namun bermakna, karenanya akan dilibatkan pula gereja-gereja yang ada di lingkar Motoling atau  Motoling tempo dulu (Motoling,  Kumelembuai, Motoling Timur,  Ranoyapo).  “Selain ibadah puncak dan  KPI (Kebaktian Penyegaran Iman), juga akan ada berbagai perlombaan olahraga dan kesenian.  Soal teknis kegiatan, akan diserahkan ke Tim Kerja yang telah dilantik,” pungkasnya.
Sementara Ketua Umum Tim Kerja Reynald Pangila SH, didamping Ketua I Sym. Esterlani Masengi SE, Ketua II Nikky Paat, Sekretaris Pnt. Aleks Mamusung AMD Kep, dan Bendahara Pnt. Hanna Limpele SE, mengatakan, setelah dilantik  Tim Kerja akan langsung bergerak, yakni dengan terlebih dulu membahas rencana kegiatan melalui tiap seksi. “Kami akan merumuskan kegiatan yang bukan hanya dikerjakan Tim Kerja, tapi melibatkan seluruh anggota Jemaat GMIM Eben Haezar, yang ada di dua Desa yakni Desa Motoling dan Motoling Maesa. Harapan kami HUT Jemaat yang baru pertama akan digelar, dapat membuat pelayanan di Jemaat semakin berkualitas, demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan,” ujar lelaki yang kesehariannya di kenal sebagai Pengacara yang beraktifitas di Kota Manado ini.
Enal, sapaan akrab Wartawan Harian METRO Manado ini, menjelaskan dari arahan BPMJ, ada beberapa kegiatan melibatkan Jemaat yang akan di gelar, seperti KPI, lomba tenda yang akan dipusatkan di halaman milik Jemaat yang berlokasi di Desa Mawale, juga lomba beberapa jenis olahraga dan paduan suara antar Kolom dan antar Jemaat. “Pada acara puncak nanti, kami akan mengndang para tokoh agama yang ada di wilayah Motoling Tempo Dulu, para Pendeta yang pernah melayani di Jemaat GMIM Eben Haezar Motoling, Pemerintah Kabuaten,  Kecamatan dan Desa Motoling dan Motoling Mawake, serta anggota Jemaat GMIM yang berasal dari Eben Haezar Motoling yang telah beraktifitas di luar Motoling atau di luar Minsel. Ini akan menjadi semacam pengucapan syukur Jemaat,” terangnya.  (Stenli)








Teknologi Sebagai Media Pelayanan

Teknologi Sebagai Media Pelayanan

DIAKONIA




Diakonia

Kisah Para Rasul 4 : 32 – 37



"Aku menjumpai Yesus Kristus dalam sesamaku..... aku harus melayaninya seolah-olah dia adalah Yesus Kristus.  Aku juga harus melayaninya seolah-olah aku  adalah Yesus Kristus. Sebenarnya diakonia gereja adalah pelayanan Yesus Kristus kepada Yesus Kristus."




Toyohiko Kagawa (1888), seorang pendeta asal Jepang, pernah  berkata;  dosa terbesar gereja adalah tidak berbuat sesuatu untuk memperbaiki kehidupan saudaranya yang miskin,  karena  terlalu sibuk  membangun gedung gereja yang besar dan mewah.  Padahal  Yesus lahir di palungan yang kumuh dan disalibkan bersama para pemberontak di Golgota.
Kritik Kagawa  secara tidak langsung,  terarah juga kepada gereja  masa kini,  di sini. 
Karena ada kecenderungan gereja lebih  banyak menguras energi dan dana untuk  pembangunan  tempat ibadah  megah, tanpa memberi perhatian  pada  angka kemiskinan  disekitarnya yang terus meningkat. 

Gereja dalam kehadirannya di dunia,  dengan tanpa mengabaikan tugas pokok yang lain, idealnya harus banyak memberi perhatian terhadap pelayanan (Yun. diakonia) orang miskin, baik  dilingkungannya sendiri,  maupun terhadap masyarakat secara umum.  Hal ini sejalan dengan anjuran Paulus Kepada Jemaat di Galatia,  “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal. 6:10).   
Berbuat baik adalah ciri orang beriman.   Dalam surat Yakobus, penulis menghubungkan iman dengan perbuatan.  Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak.2:17). Tidak ada gunanya kita berkata : "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yak. 2:16).  

Gustavo Gutierrez, seorang teolog asal Amerika Latin, menulis bahwa masalah kemiskinan harus dihadapi oleh orang Kristen dengan jalan solidaritas, yakni suatu ungkapan kasih bersama orang miskin. Solidaritas  seperti itu nampak pada pola hidup jemaat Kristen mula-mula, seperti yang diceritakan Lukas dalam  Kis. 4: 32-37.  
Diceritakan pada bagian Alkitab ini, karena termotivasi  oleh kesaksian para rasul tentang karya keselamatan Kristus, Jemaat yang baru melembaga itu   langsung diliputi  rasa kebersamaan yang tinggi. Mereka sehati sejiwa (ay. 32),  yang diwujudkan dalam pelayanan kasih.
Tiap orang yang berkelebihan, menjual hartanya, baik rumah maupun tanah , untuk menopang pelayanan dan membantu atau menutupi memiskinan yang dialami  saudaranya.   Yang tujuannya ialah  “sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka”  (ay.34).  

Mungkin ada yang bertanya , relevankah  gaya hidup jemaat mula-mula untuk konteks masa kini? Jawabannya ya! Pola itu masih relevan. Hanya perlu digaris bawahi, kita tidak perlu meniru contoh Jemaat di Yerusalem itu secara kaku. Pola mereka bukan hukum yang sifatnya wajib. Pola itu timbul dari persatuan dan kasih mereka dalam Yesus Kristus. “Mereka sehati sejiwa”. 

 Gereja yang ‘sehati sejiwa’, akan  berusaha melepaskan belenggu yang memisahkan  antara yang kaya dan miskin. Gereja yang anggotanya ‘sehati sejiwa’ akan  memaksimalkan pelayanan (diakonia) terhadap sesama.  
 Kita mengenal tiga bentuk diakonia; 


           1. Diakonia Karitatif.
Diakonia bentuk ini biasanya digambarkan dengan berbelas  kasih, ibarat   memberi sepotong ikan kepada yang lapar supaya  bisa  langsung dimakan. Diakonia ini terkadang menjadi satu-satunya program gereja, yakni memberi sembako atau pengobatan gratis saat Natal dan Paskah kepada janda miskin, anak yatim piatu dan tahanan.  Meski dibutuhkan,  diakonia ini sebenarnya belum  mampu menolong orang miskin. 

          2. Diakonia  Reformatif (Pembangunan) 
Diakonia ini  digambarkan  menolong orang lapar dengan memberi alat pancing (bantuan modal) dan mengajar memancing (bantuan tekonologi)  supaya bisa  mengusahakan ikan untuk dimakan. Diakonia ini penting, karena membantu orang miskin  untuk menolong dirinya sendiri. Namun ada kendala dengan diakonia ini, yakni bagaimana jika sungai  atau laut, tempat untuk menangkap ikan telah dicemari  limbah  atau telah dipatok oleh perusahaan?
  
3. Diakonia Transformatif
             Diakonia transformatif merupakan jawaban untuk pertanyaan tadi. Diakonia transformatif  bisa disebut  sebagai diakonia pembebasan. Rakyat kecil  yang haknya dirampas (nelayan yang sulit memancing), yang buta hukum  dan yang  kehilangan  semangat berjuang perlu  dilayani. Yakni  menyadarkan hak-hak mereka dan memberdayakan.  Diakonia ini mendorong dan memberi semangat kepada orang miskin untuk percaya pada diri sendiri.
           
Ketiga bentuk diakonia ini, sepatutnya diperjuangkan dan diusahakan  gereja. Sebab gereja hadir  untuk menyatakan syalom (damai sejahtera), baik untuk orang kaya dan terutama orang miskin. Kemiskinan jangan hanya didialogkan, tetapi  dikerjakan. 
Tuhan Yesus kepada para murid mengamanatkan agar mereka memberi perhatian kepada yang miskin.  Matius 25:40 berkata Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Mari kita simak ungkapan DT. Niles, Teolog terkenal dari Sri Langka ini : Aku menjumpai Yesus Kristus dalam sesamaku…. . aku harus melayaninya seolah-olah dia adalah Yesus Kristus.  Aku juga harus melayaninya seolah-olah aku  adalah Yesus Kristus. Sebenarnya diakonia gereja adalah pelayanan Yesus Kristus kepada Yesus Kristus. Dalam diakonia itu gereja ikut serta dalam dunia.  Amin.  (Stenli Lalamentik)




Kamis, 18 Juni 2015

32 Kutipan Kata Mutiara Kristen




32 KATA MUTIARA KRISTEN



1. Dalam Dasa Titah terdapat perintah: "Hormatilah ayahmu & ibumu..." (Kel.20:12). Perintah ini bukan ditujukan kpd anak yg masih kecil melainkan kpd anak yg sdh dewasa, sebab Dasa Titah dialamatkan kpd org dewasa. Jadi, ayah & ibu di sini adalah ayah dan ibu yg sudah werda/lansia. Kata hormatilah (Ibr. Kabeed = menilai berat seperti dlm timbangan, menilai tinggi seperti dlm harga) di sini berarti mencukupkan kebutuhan para lansia. Perhatikan pula ayat ini: ".... engkau harus menaruh hormat (Ibr.: hadar = taat, respek) kepada org yg tua & engkau harus takut (Ibr. : yare = takwa, respek) akan Allah-mu" (Im. 19:32). Perhatikan betapa gamblangnya ayat ini. Di sini lansia di sejajarkan dgn Allah. Respek kepada lansia sama dengan respek kepada Tuhan. Cuek kpd lansia sama dengan cuek kepada Tuhan. Apakah ayat ini masih kurang gamblang?

2. Kristus berkata ".... kamu akan menjadi saksi-Ku ... " (Kis.1:8). Kita ditunjuk untuk bersaksi tentang siapa Kristus dan apa yang telah diperbuat-Nya. Tetapi bersaksi tidak selalu sama dengan berbicara. Bersaksi terjadi melalui kiprah hidup kita sehari-hari. Kiprah sebenarnya berarti gerakan tarian cepat namun dengan perhitungan yang cermat dan tepat. Berkiprah berarti melakukan kegiatan dengan gesit namun dengan berhati-hati dan bersungguh-sungguh. Mungkin sifat-sifat itu yang dimaksud dalam ucapan Kristus, "... Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Mat. 10:16). Selamat berkiprah........

3. Dlm Matius 5:39 Yesus berkata "....siapa pun yg menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu". Dalam masyarakat Israel pada zaman Yesus, perselisihan antara dua org seringkali dilakukan di depan umum. Di depan banyak org si A boleh memaki lawannya secara habis2an. Dalam gaya bahasa Yahudi itu disebut "menampar pipi". Sesudah itu, lawannya mempunyai hak utk membalas dgn mencaci maki pula. Dlm gaya bahasa Yahudi itu disebut "membalas menampar". Lalu dlm hubungan ini Yesus berkata "...siapa pun yg menampar pipi kananmu, berilah jg kepadanya pipi kirimu"" Arti ucapan Yesus ini adalah relakanlah hak kita digunakan org lain atau korbankanlah hak kita demi mengutamakan hak org lain. Bahkan dalam hal hak membalas kejahatan, lepaskanlah hak itu dan jangan gunakan hak itu. Kita perlu membela diri dari kejahatan, namun kita tidak usah membalasnya.

3. Perbuatan mengasihi dpt dilakukan semua org sebab perbuatan itu sendiri tdk bersifat khas Kristen. Perbuatan mengasihi itu menjadi Kristiani jika kita melakukannya dgn motivasi bhw Yesus pun telah mengasihi kita. Ia berkata, "...supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu"(Yoh.15:12). Demikian jg halnya dgn perbuatan mengampuni. Perbuatan mengampuni bisa dilakukan oleh semua org, namun perbuatan itu menjadi Kristiani bila didasarkan pd pengakuan bhw kesalahan kita yg lebih besar sdh diampuni oleh Tuhan sehingga kita pun patut mengampuni org lain yg bersalah pd kita. Org Kristen atau lembaga Kristen menyandang nama Yesus Kristus & nama itu sungguh luhur. Nama itu adlh nama Yesus, orang biasa yg hidup sbg Allah & Allah yg hidup sbg org biasa. Menyandang nama yang begitu luhur berarti tanggung jawab untuk berperilaku sesuai dengan keluruhan nama itu. Menyandang sebutan Kristen tdk mudah. Itu sebabnya filsuf Friedrich Nietzche berkata, "Hanya ada satu org Kristen, Ia mati di kayu salib."

4. Cinta adalah kunci pengampunan. Mengampuni memang berat, penuh pengorbanan, tetapi cinta merupakan motivasi yg cukup kuat untuk menanggung segala pengorbanan itu. Karena cinta-Nya, Tuhan mengampuni kita dengan penuh pengorbanan pada pihak-Nya. Hanya jika hati kita dipenuhi dengan cinta, kita dapat mengampuni dengan tidak menghitung-hitung. Petrus tidak perlu menanyakan: "Berapa kali aku harus mengampuni saudaraku?", kalau ia mencintai saudaranya itu. Cinta tidak menghitung-hitung. Berapa kali anda sudah mengampuni anak-anak anda sejak bayi sampai sekarang? pasti tak terhitung, anda tidak pernah merasa terlalu banyak atau terlalu sering untuk itu. Mengapa? Karena anda mencintai mereka. Ajaran Kristen tentang pengampunan tidak sekedar sebuah nasihat apalagi perintah. Ajaran Kristen tentang pengampunan sebenarnya lebih merupakan undangan untuk masuk dalam persekutuan cinta Allah, di mana tersedia pengampunan yang tidak menghitung-hitung, di mana dosa kita maupun dosa orang lain tidak pernah merasa terlalu besar.

5. Org Kristen, kata Paulus, tdk hidup mnurut budaya penghukuman, tetapi "hidup menurut Roh" (Rm.8:9) Roh yg bgm? Roh yg memerdekakan, Roh yg menghidupkan! Artinya, semangat Kristen adalah semangat membebaskan org, baik dari perasaan berhak menghukum, maupun dari mentalitas terhukum. Tugas org Kristen bukan menghukum org yg bersalah, tetapi mengampuni, menerima & menolong mereka utk merasakan kemurahan Tuhan. Panggilan org Kristen terhadap org yg jatuh dalam dosa bukanlah mengucilkan atau melecehkan mereka, tetapi menolong mereka utk dapat bangkit kembali & memulihkan rasa percaya diri mereka. Misi Kristen bukanlah memaklumkan bahwa orang-orang tertentu adalah terdakwa dihadapan Tuhan, tetapi memberitakan bahwa mereka adlh anak-anak Allah yg layak dihargai & menghargai hdp mereka sendiri. Jika gereja benar-benar  dpt dirasakan sbg lingkungan yg mengampuni, menghargai & merangkul setiap org maka,  ebigut seorg berdosa masuk ke dalam gereja ia akan merasa tidak kerasan lagi di dalam dosanya. Ia akan merasa terlalu bodoh utk tetap tinggal didlm dosa. bahkan hdp dlm dosa jg menjadi tdk menarik.

6. Banyak kepercayaan menekankan kebesaran & kuasa Tuhan. Bagi kita, Tuhan itu mahabesar & mahakuasa, tetapi terutama Ia mahabaik. Ia menyelamatkan kita bukan dengan kebesaran-Nya (sebab Ia justru menjadi manusia) dan bukan dengan kuasa-Nya (sebab Ia justru mati tak berdaya di atas salib), tetapi dengan kebaikan-Nya (yg mengampuni orang berdosa & menolong orang yg lemah). Injil adalah undangan untuk menikmati kebaikan Tuhan itu. Orang yg percaya akan kebesaran & kuasa Tuhan tetapi kurang sadar akan kebaikan Tuhan bisa saja menjadi orang yg sangat beragama tetapi belum tentu orang baik. Jangan heran kalau banyak kejahatan justru berkaitan dengan orang-orang beragama. Kepercayaan akan kebesaran & kuasa Tuhan bisa menjadi dasar untuk selalu membesarkan diri & memupuk kekuasaan diri. Hasilnya adalah sikap hidup yang berbahaya bagi orang lain. Karena itu tidak cukup hanya mengagumi kebesaran Allah dan mengakui kuasa-Nya. Maka, "kecaplah dan lihatlah kebaikan-Nya", nikmatilah dan sadarilah betapa baiknya Tuhan itu!

7. Kita tidak dapat mengatur panjang umur kita, tetapi kita dapat mengatur lebar dan dalamnya. Kita tidak dapat mengatur bentuk wajah kita, tetapi kita dapat mengatur ekspresinya. Kita tidak dapat mengatur kebiasaan buruk yang mengganggu dari orang lain, tetapi kita dapat mengendalikan kebiasaan kita sendiri. Kita tidak dapat jarak kepala kita dari tanah, tetapi kita dapat mengatur tingginya ilmu yang kita masukkan ke dalamnya. Allah menolong kita untuk mengatur segala sesuatu yang dapat kita atur dan menyerahkan sisanya ke dalam tangan-Nya.

8. Iman Kristen bukanlah pertama-tama tentang bagaimana menguasai bahasa Tuhan, tetapi bahwa Tuhan berbicara dalam bahasa kita. Ia hadir dalam situasi kita, suka dan duka kita, segala keterbatasan kita, dalam hidup kita sehari-hari. Iman Kristen bukanlah pertama-tama tentang bagaimana mengetahui segala seluk-beluk Tuhan, melainkan kesadaran bahwa Tuhan mengetahui segala seluk-beluk kita dan mengenal kita secara pribadi, peduli dengan nasib kita, ikut bergumul dalam persoalan-persoalan. Iman Kristen bukanlah tentang metode untuk naik ke sorga, melainkan pengharapan bahwa kerajaan sorga ada di tengah-tengah kita (karena itulah kita berdoa 'datanglah Kerajaan-Mu.....').

9. Suatu ketika, para pegawai kekaisaran Cina pergi mencari Chuang Tzu, filsuf Tao yang hidup menyendiri dan bebas sebagai orang miskin. Kaisar telah mendengar bahwa Chuang Tzu sangat bijaksana dan ingin mengangkatnya sebagai penasihat pengadilan di kekaisarannya. Sang kaisar menawarinya kehormatan, kekayaan, atau hak istimewa. Chuang Tzu menjawab, "Lihatlah seekor kura-kura. Menurutmu, apa yang lebih diutamakannya? Tetap hidup dan berguling dalam lumpur, atau mati, karena diambil tempurungnya untuk disepuh dan digosok menjadi kotak permata?" Para pegawai kaisar menjawab, "Lebih baik tetap hidup." Sambil berlalu, Chuang Tzu berkata, "Baiklah, biarkan saya berguling dalam lumpur".....

10. Seorang ayah memiliki 3 anak perempuan. Saat hari ulang tahunnya, ia ingin memberi sesuatu yg berharga kepada satu di antara ketiga anaknya. "Ayah akan memberikan jam tangan ini kepada salah seorang di antara kalian. Ayah akan meletakkannya di lumbung padi yg penuh dgn jerami. Siapa yg mendapatkan arloji, maka ia berhak memilikinya." Anak yg pertama mencoba mencari dgn membolak-balik tumpukan jerami. Tetapi sampai tenaganya habis, arloji itu tdk berhasil ditemukan. Anak yg kedua mencoba mencari dgn menggunakan lampu senter. Setiap sudut ruangan dipelototinya. Tetapi hingga baterai lampu itu habis, arloji itu tdk ditemukan. Anak yg ketiga masuk ke dalam lumbung. Tak berapa lama kemudian, ia keluar dgn membawa arloji yg dimaksudkan. Melihat hal itu sang ayah bertanya, "Bagaimana kamu dapat menemukan arloji itu dgn cepat?" Anak itu menjawab, "Ayah, aku hanya duduk diam. Dalam keheningan aku mampu mendengarkan suara detak arloji sehingga dgn mudah aku menemukannya."

11. Hanya karena Dia tidak menjawab bukan berarti Dia tidak peduli. Beberapa karunia Allah yang terbesar adalah doa-doa tak terjawab.

12. Di kerajaan Ts'u pernah tinggal seorg pemuda bernama Jujur. Ayahnya mencuri seekor domba, jadi ia pergi & memberi tahu hakim, yg memerintahkan agar org yg bersalah itu ditahan, & siap menjatuhkan vonis atas dirinya. Si pemuda Jujur itu kemudian meminta diizinkan memikul hukuman menggantikan ayahnya. Tepat sebelum diterapkan, ia berkata kepada sang pejabat: "Waktu ayah saya mencuri seekor domba & saya melaporkan pencurian itu, bukankah saya bersikap jujur? Waktu ayah saya hampir dihukum, & saya menawarkan memikul hukuman itu, bukankah saya menghormati ayah saya? Jika org yg jujur & mengasihi org tuanya bahkan dihukum, siapa diseluruh kerajaan yg tdk akan dihukum?" Waktu sang hakim mendengar ini ia pun membebaskan pemuda itu. Waktu Kong Hu Cu mendengar kisah ini, ia berkata : "Aneh! Bahwa seorang bisa menjual nama baik ayahnya untuk mengharumkan kejujurannya sendiri. Jika itu disebut kejujuran, lebih baik kita tidak jujur saja." (Cerita Rakyat Cina).

13. Setiap agama memiliki bentuk-bentuk doa. Kaum ateis pun memiliki cara untuk berdoa. Pada masa komunisme berjaya di Rusia para pendukung partai memiliki suatu "pojokan merah", tempat menaruh sebuah foto Lenin. Disitu tertulis, 'Jika kalian menghadapi kesulitan dalam pekerjaan, atau tiba-tiba meragukan kemampuan kalian, ingatlah ia -Stalin- dan kalian akan menemukan keyakinan yang kalian butuhkan. Jika kalian merasa lelah sebelum waktunya, ingatlah ia -Stalin- dan kalian akan bekerja dengan baik. Jika kalian hendak membuat keputusan yang tepat, ingatlah ia -Stalin- dan kalian akan menemukannya

14. Istri yg teramat baik, siapa yg mendapatnya? Dia jauh lebih berharga dari intan, permata cerlang. Kekuatan dipakainya, kemuliaan dipegang, tidak ragu melangkah menuju ke masa depan. Jika dia berbicara; bijaksana dan cerdas. Dia pun berkata penuh makna, lembut dan tenang, tetapi berwibawa dan cekatan bekerja, rumah tangga bahagia, suami memuji mesra. Istri yg baik itulah mahkota yg terindah. Yang tidak baik bagai penyakit membusukkan tulang. Paras yang cantik hanya sesaat dan sia-sia. Tetapi istri yang taat pada Tuhan akan selalu mendapat pujian...

15. Mungkin lbh baik iman yg berpengharapan & rendah hati, daripada yg menjanjikan terlalu banyak. Ditahun 90an, seorang penyembuh iman dr amerika menjadwalkan ibadah KKR dikamboja. Poster2 muncul menjanjikan penyembuhan & pembebasan dr masalah apapun. Petani menjual sapi bahkan rumah mereka & melakukan perjalanan ke phnom pehn utk menghadiri acara itu. Sebagai akibat dari ranjau darat sisa perang vietnam, 1 dari 200 warga kamboja diamputasi & banyak diantara mereka menghadiri ibadah itu. Ketika mereka tidak sembuh, kerusuhan pun pecah di stadion. Penginjil hrs diselamatkan oleh pasukan helikopter, yg membawanya berlindung ke hotel. Ketika org marah berhamburan keluar dari stadion & mengelilingi hotel, penyembuh iman itu meninggalkan negeri tersebut & kemabli ke amerika. Dampak atas kejadian, seorang pemimpin gereja di sana berkata "Hal ini telah membuat kami mundur setidaknya 50 tahun. Kami mungkin tidak pernah bisa memulihkan kredibilitas di sini" (akibat itu, kristen kamboja minoritas yg sulit berkembang)

16. Berilah hamba-Mu hati yang faham......

17. Persahabatan menyatukan perasaan.
Kita senang bersama dan sedih bersama.
Persahabatan tumbuh dari keterbukaan dan rasa percaya.
Kita merasa dekat.
Kita saling mengagumi, tetapi kita berani berterus terang menegur kesalahan masing-masing.
Kita saling menyukai, tetapi juga saling memarahi.
Kita saling membutuhkan, tetapi tidak saling memanfaatkan.
Sahabat tidak membujuk, tetapi juga tidak menuntut.
Antara sahabat tidak ada iri dan dengki.
Keberhasilannya menjadi kebanggaanku, kegagalannya menjadi kekecewaanku. Sahabat saling mau mendengarkan, menyelami dan mengerti.
Sahabat saling peduli.
Untuk bersahabat kita perlu berjiwa besar dan berhati ikhlas.
Terhadap sahabat kita boleh mengeluarkan perasaan sebagaimana adanya, tanpa pura-pura ramah dan memasang senyum buatan.
Persahabatan dipupuk oleh itikad dari kedua belah pihak.
Dalam prsahabatan ada kedekatan.
Atau dengan kata-kata Amsal: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran" (Ams. 17:17).  

18. Kekerasan bisa trjadi atas nama agama krn slama ini pribadatan, cara beragama atau keberagamaan kita salah. Keberagamaan kita umumnya  sangat  menekankan aspek ritual-seremonial. Ketika aspek ritual ini  ditonjolkan, maka yg diutamakn adalah symbol-simbol. Ketika yg diutamakn adalah symbol-simbol, maka yg muncul adalah identitas kultural-primordialnya, bukan pada identitas spritualnya. Ketika yg dikedepankan identitas kultural atau simbol2, maka yg muncul kekerasan, & ketika yg muncul adalah kkerasan, maka agama hanya menjadi beban bukan mnjadi berkah. Itu sebab, yg sangat mndesak skrg ini utk dilakukan oleh agama2, baik sendiri2 maupn bersama-sama adlh mnghidupkn ibadah sosial. Ibadah ritual tdk pnya makna apa2 ktika ibadah sosial tdk dilakukan. Ibadah sosial hrslah mrupakan ekspresi dari ibadah ritual. Itulah makna dari printah Yesus dlm Mat.22:37-40. Kita blm mengasihi Tuhan Allah, kalau kita blm mngasihi sesama manusia. Artinya kasih kpd sesama manusia yg dinyatakan dlm prjuangan mnegakkan harkat & martabat manusia adalah bentuk yg paling benar dr kasih kpd Tuhan Allah.  

19. Dalam 1 Raja-raja 19 : 9 - 18..... Tuhan menyuruh nabi Elia mencari-Nya. Mula-mula ia mencari Tuhan di tengah "angin besardan kuat yang membelah gunung dan memecahkan bukit-bukit batu". Tetapi Tuhan tidak ada.
Ia juga mencari Tuhan "di dalam gempa dan di dalam api". Tuhan juga tidak ada disitu.
Sesudah itu "datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa". Ternyata disitulah Tuhan. Tuhan datang dalam bunyi yang hening dan halus.
Itulah sebabnya kita meneduhkan diri dan beribadah.

20. Memaafkan tidak identik dengan melupakan kesalahan orang lain. Memaafkan justru melampauinya. Memaafkan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan diri dan kesalahan orang lain, menjadikannya sebagai sejarah pengalaman hidup untuk menguji konsistensi fitrah ilahi dalam diri maupun komunitas. Dalam arti itu, pemaafan yang tulus tidak memberi ruang bagi kemunafikan. Memaafkan orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan adalah menerima kemanusiaan orang lain, sebagaimana kita menerima kemanusiaan diri sendiri. Memaafkan adalah membuka kedua tangan untuk merangkul orang lain dengan seluruh keberlainan mereka. Seperti bunyi sebuah doa permohonan kepada Tuhan "Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami".

21. Doa yg rasional bersifat realitis. Ia menyadari bahwa doa tidak selalu dapat terkabul. Ia menyadari bahwa terkabulnya doa bukan tergantung dari faktor orang yg berdoa, melainkan sepenuhnya tergantung dari wewenang Allah.
Karena itu doanya tdk mendesak-desak, melainkan tenang & pasrah.

22. sorga bukan perkara siapa layak & siapa tidak. sorga adalah perkara rahmat. Dan rahmat Tuhan tersedia bagi tiap orang, entah dia beragama atau tidak.

23. Raja Filipus II (382-336 SM) dari Makedonia, berencana menaklukkan Kota Sparta atau Lakonia.
Raja Filipus mengirim surat ancaman kepada penguasa Sparta. Bunyi surat itu demikian, “Jika kalian tidak menyerah, aku akan menyerbu negeri kalian. Dan jika aku menyerbu, aku akan merampok dan membakar segala sesuatu yang kalian cintai. Jika aku berbaris masuk ke dalam Lakonia, aku akan membumi-ratakan kota besarmu.” Dalam beberapa hari, Filipus menerima surat balasan dari Sparta. Saat surat itu dibaca, ia hanya menemukan satu kata yang tertulis.
Kata itu adalah “JIKA.”

24. Jika orang marah, kita balas marah, orang menghina, kita balas menghina, ternyata diri kita hanya sekedar peniru keburukan saja.
Karena itu, Kendalikan hatimu. Karena 'hati' lah yang dapat mengendalikan apapun yang akan kamu perbuat.

25. Dengarlah seruan optimis dari seorang pengarang yang sedang menangis di antara puing reruntuhan Bait Allah yang hancur pada suatu hari di Yerusalem, tahun 587 SM...... "Tuhan adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya" (Rat. 3:24).

26. Ada banyak perbedaan antara agama kita dengan agama-agama lain dan perbedaan itu tidak ditutupi, melainkan justru dibuka namun dengan penuh respek. Perbedaan itu dihargai. kita menyadari bahwa Allah yang selama ini hanya kita lihat dari satu perspektif saja ternyata juga bisa dilihat dari perspektif agama lain. Kita saling menghormati perspektif masing-masing agama dan dengan rendah hati mengakui bahwa semua agama berdiri sama tinggi dan sama rendah di hadapan Allah. Hasilnya bukan sekedar kerukunan, melainkan saling memberi dan saling menerima untuk memperkaya penghayatan spritual masing-masing.
Saling memberi dan saling menerima itu tampak dalam cerita Abraham.
Abraham ditugaskan untuk memberi berkat. Sabda Allah ".....engkau akan menjadi berkat" (Kej. 12;2). Tetapi ketika Abraham bertemu dengan Melkisedek, seorang raja dan imam berbangsa dan beragama Kanaan, ternyata Abraham menerima berkat darinya. (LIhat Kej. 14 : 17 - 24) Sesuai dengan agama yang dianutnya, Melkisedek memberkati dalam nama El Elyon (Terj. LAI : Allah yang Maha Tinggi), padahal Abraham beribadah kepada Yahweh (Terj. LAI : TUHAN). Lalu penyusun perikop ini pada ayat 22 menempelkan kedua nama itu menjadi Yahweh El Elyon (Terj. LAI : TUHAN, Allah yang Maha Tinggi) untuk memperlihatkan bahwa kedua nama itu menunjuk kepada Allah yang sama.

27. kamu sdh berpendapat tdk mau mnjadi perokok. Motivasimu jelas: merokok merugikan kesehatan. Itu prinsipmu. Lalu kamu berada di tengah2 kawanmu yg sdg merokok. Kamu menolak ajakan mereka. Dan mereka mengejek: Ah, pengecut, kuno! Pada saat itu kepribadianmu sedang diuji. Menyerah? Masakan kamu mengorbankan kepribadianmu hanya krn takut disebut kuno atau pengecut. Kalau kamu menolak, mungkin kamu akan kehilangan kawan, tetapi kalau menyerah kamu akan kehilangan kepribadian. Mana yg lbh susah dicari? Sbg seorg remaja kamu skg sdg mempunyai proyek yg sangat penting: kamu sdg membangun masa depanmu. Apa hubungan masa dpn dgn kawan2 skg? Erat sekali. Keterhisaban dgn kawan2 bisa menguatkan proyek pembangunan masa depan itu. Atau sebaliknya: Merusakkan. Kawan2 berfungsi sbg teladan peran yg positif atau yg negatif. Teladan atau pengaruh yg skg kamu terima itu akan mewarnai masa depanmu. Krn masa depan bukanlah apa yg akan kita hadapi nanti, melainkan apa yg sedang kita ciptakan sekarang.

28. “Anakmu sebenarnya bukan milikmu.Mereka adalah anak Sang Hidup yang mendambakan hidup mereka sendiri.
Mereka memang datang melalui kamu, tetapi mereka bukanlah milikmu. Engkau bisa memberi kasih sayang, tapi engkau tidak bisa memberikan pendirianmu, sebab mereka memiliki pendirian sendiri.
Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak untuk jiwanya, sebab jiwa mereka ada di masa depan yang tidak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi…
Engkau adalah busur dari mana bagai anak panah, kehidupan anakmu melesat ke masa depan.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.”

29. Hidup adalah mewaris; mewarisi dan mewariskan. Kita mewarisi banyak hal dari generasi lampau dan mewariskan banyak pula kepada generasi mendatang. Karena itu, hidup diukur dengan tantangan: apa yang kita warisi dan apa yang kita wariskan? Warisan hidup terdiri atas: nilai-nilai hidup, pegangan hidup, makna hidup, misi serta visi hidup dan lainnya. Isi warisan hidup kita begitu banyak. Masakan kita tahu apa yang kita warisi dan tidak peduli akan apa yang kita wariskan?

30. Hidup akan menjadi lebih baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Seperti yang ditulis Paulus, "........ kami memikirkan yang baik, bukan hanya dihadapan Tuhan, tetapi juga dihadapan manusia" (2 Kor. 8:21). Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah.

31. Sungguh arogan bila kita merasa mempunyai hikmat atau akal budi bijak tentang Allah. Allah adalah misteri sehingga tidak ada hikmat manusia yang dapat mengukur penilaian Allah. Semakin mendalam kita berteologi, semakin kita akui bahwa pengetahuan kita tentang Allah merupakan hanya satu perspektif diantara sekian banyak perspektif lain. Leo Lefebure menulis bahwa teologi semua agama adalah docta ignorant, yaitu ketidaktahuan yang merasa tahu.

32. Apa motivasi Tuhan mengampuni kita?
Bukan kepentingannya sendiri, tetapi tidak lain adalah karena cinta-Nya kepada kita. Cinta adalah kunci pengampunan.
Mengampuni memang berat, penuh pengorbanan, tetapi cinta merupakan motivasi yang cukup kuat untuk menanggung segala pengorbanan itu.
Karena cinta-Nya Tuhan mengampuni kita dengan penuh pengorbanan pada pihak-Nya.
Hanya jika hati kita dipenuhi dengan cinta, kita dapat mengampuni dengan tidak menghitung-hitung.
Petrus tidak perlu menanyakan : "Berapa kali harus mengampuni saudaraku?", kalau ia mencintai saudaranya itu.
Cinta tidak menghitung-hitung.
Berapa kali anda sudah mengampuni anak-anak anda sejak bayi sampai sekarang? Pasti tak terhitung, dan anda tidak pernah merasa terlalu banyak atau terlalu sering untuk itu.
Mengapa? Karena anda mencintai mereka.
Ajaran Kristen tentang pengampunan tidak sekedar sebuah nasihat, apalagi perintah. Ajaran Kristen tentang pengampunan sebenarnya lebih merupakan undangan untuk masuk dalam persekutuan cinta Allah, di mana tersedia pengampunan yang tidak menghitung-hitung, di mana dosa kita maupun dosa orang lain tidak pernah terasa terlalu besar.