Kamis, 18 Juni 2015

98 Fak. Teologi UKIT Tomohon (Renungan)





 DARI PARADISE KE EDEN 

(Untuk Teman-Teman Angkatan 98 Fak. Teol. UKIT Tomohon) 

Editor buku  renungan ini, Bung Denny Pinontoan,  berharap  setiap renungan yang ditulis  harus original, asli  karya sendiri. Karenanya  pertama-tama saya mohon maaf, sebab judul renungan ini  sama sekali tidak original. Tepatnya dikutip dari  sebuah buku yang pernah diterbitkan tahun 2002 silam, yang  judulnya  persis  sama ‘Dari Paradise ke Eden’.  Saya memberanikan diri mengutip, karena dua  alasan. Pertama,  buku itu tidak terkenal, sebab hanya dicetak satu exlempar. Bahkan saya sendiri  lupa,  sumbangan tulisan saya di buku itu  seperti apa.   Kedua, karena saya,  editor  dan beberapa penulis buku renungan ini, adalah orang-orang yang menulis buku tidak terkenal itu. 
 Kepada pembaca saya juga minta maaf, karena judul renungan ‘Dari Paradise ke Eden’ ini tidak bermaksud membuat semacam uraian tafsiran singkat  yang diambil dari kitab Kejadian sampai Wahyu. Sama sekali tidak.  Karena jika mau menafsir seperti itu, judulnya harus dibalik, ‘Dari Eden ke Paradise’. Lagi pula, sekali lagi, mungkin editornya  akan tidak setuju (editornya agak galak), sebab sesingkat-singkatnya tafsiran dari Kitab Kejadian-Wahyu, pasti membutuhkan halaman yang banyak. Mau bukti?  Silakan tanya  mahasiswa Teologi UKIT Angkatan Tahun 1998. Sebagian besar mereka pernah ditugaskan oleh para dosen, untuk membuat ringkasan Alkitab yang ditulis tangan.  
Meski buku ‘Dari Paradise ke Eden’ tidak terkenal, tapi buku ini istimewa dan akan selalu  dikenang.  Buku itu  sengaja dibuat  untuk didedikasikan kepada seorang sahabat yang telah meninggal  karena sebuah peristiwa kecelakaan maut di Tomohon.  Dengan penuh rasa hormat dan bangga  saya  menulis nama beliau,  Feliks A.N. Manua, meninggal tanggal 06 September 2002 (tanggal yang sama saat saya mulai menulis renungan ini, 06/09/2012).
Melewati hari bersama Feliks di kampus dan tempat kost, sungguh merupakan kebanggaan bagi para sahabat. Karenanya selain melalui air mata, buku itu turut menjadi ‘curahan hati’ betapa waktu itu kami sangat  berduka. 
Soal judul buku kenapa ‘Dari Paradise ke Eden’?  Sebenarnya kata Paradise dan Eden diambil dari dua nama tempat kost, (pemondokan, itu istilah kami) yakni Paradise di kompleks Bukit Inspirasi Tomohon dan Eden yang terletak, dibawah Kampus UKIT Bersinar (Bersih, Bersiman dan Bernalar).  Dipilihnya Paradise dan Eden, karena yang satu mewakili tempat kost pria dan yang satunya tempat kost perempuan. Mewakili berarti, ada banyak tempat kost yang dihuni mahasiswa khususnya angkatan 1998, seperti Ekklesia, Bahtera, Ekkletos, Pondok Daun, Partenos, Pondok Indah, Titanic dan sebagainya. Jadi pemilihan Paradise dan Eden sifatnya tidak eksklusif, tapi sekedar mewakili. Para penulis buku ‘Dari Paradise Ke Eden’ ada juga yang bukan tinggal di tempat kost ini.
Persahabatan dengan Feliks memang isitmewa. Dia mampu  memecahkan tawa, ketika suasana sedemikian sunyi, karena dia memang seorang humoris sejati. Dia tidak gampang marah meski diejek dalam berbagai cara.  Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul membuat ia cepat akrab dengan siapa saja, karenanya waktu meninggal pun ia turut di ibadatkan secara Katolik oleh beberapa Frater (Mahasiswa STF Pineleng) sebagai wujud persahabatan dan rasa hormat. Dia  bersedia memberi diri menjadi Ketua Panitia Ibadah Natal Yesus Kristus, di tempat kost, disaat rekan-rekannya (termasuk saya  enggan  dan malas menerima tanggung jawab itu).  Dia  juga mau  menjadi ketua panitia Ospek saat penerimaan  mahasiswa baru di kampus.  
Sebagai seorang yang memiliki cita-cita besar, dia sebenarnya telah merencanakan masa depannya.  Dia berhasrat melanjutkan studi S2 di salah satu kampus terkenal di Amerika Serikat. Untuk mewujudkan itu, meski belum waktunya menyusun skripsi S1,  dia telah menyelesaikan  bagian Pendahuluannya. Sayang sebuah kecelakaan  yang terjadi  tepat disaat keluarganya asyik menikmati Hari Ulang Tahun ayahnya,   nyawa  Feliks melayang. Tangis kesedihan pun tak terelakkan.  Seorang sahabat  yang akrab, ramah, humoris, bertanggung jawab dan sopan itu berpulang.
Ditinggal mati oleh sahabat  yang sangat dikasihi pasti akan menimbulkan  duka yang dalam. Itu pula yang dirasakan Daud ketika  mendengar kematian sahabat karibnya, Yonatan. Yonatan adalah seorang pangeran, anak Raja Israel, Saul. Sedangkan Daud seorang teruna pemberani, yang sukses membantu Saul menaklukkan  pasukan Filistin yang dipimpin seorang raksasa bernama Goliath. Sama-sama menjadi  pahlawan bagi bangsa Israel, membuat  keduanya  saling mengagumi. Dan  rasa kagum itu berbuah ikatan persahabatan yang tulus dan dalam. Penulis Kitab Samuel menuturkan jiwa keduanya berpadu (saling tertarik) dan saling mengasihi seperti diri sendiri (1 Sam 18:1 dan 3). Persahabatan keduanya pun diikat dengan komitmen untuk saling setia dan melindungi. Ikatan itu bahkan bukan hanya berlaku bagi keduannya, tapi juga bagi keluarga atau keturunan masing-masing (1 Sam. 20:14-17).
Persahabatan mereka diuji, ketika Saul mulai membenci Daud. Yonatan lebih membela kebenaran. Maka Daud dilindungi, meski dia sendiri nyaris mati di tangan ayahnya. Tindakan Yonatan ini tidak lantas membuat dia menjadi anak durhaka terhadap ayahnya.  Karena diakhir hidupnya, dia  mendampingi ayahnya berperang, hingga membuat Yonatan dan Saul  mengalami kematian (1 Sam. 31:2).  Kematian Yonatan  membuat Daud sangat berduka. Duka yang dalam itu, tergambar  lewat sebuah  tulisan (nyanyian)  Daud, yang wajib dinyanyikan bani Yehuda dalam 2 Sam.1:17-27.  
Suatu kali ketika Daud telah menjadi raja Israel, dia terkenang terhadap persahabatannya dengan Yonatan. Dipanggilnya, bekas seorang pelayan Saul, dan ditanyakan soal keberadaan keluarga Yonatan. Alangkah bahagiannya Daud, ketika mengetahui kalau  Yonatan memiliki seorang anak lelaki yang masih hidup. Anak itu bernama Mefiboset (2 Sam.9).   Ketika Saul dan Yonatan tewas dalam perang, Mefiboset yang masih lima tahun diselamatkan oleh pengasuhnya (2  Sam. 4:4). Daud pun menyambut dia sebagai keluarga.
Janji setia untuk  saling melindungi yang pernah terucap antara dirinya dengan Yonatan, diwujudkan Daud dengan memberikan seluruh harta Saul kepada Mefiboset.   Itulah dampak dari persahabatan yang tulus. Daud telah menerima kebaikan  dan pertolongan Yonatan, karenanya hal yang sama dia lakukan terhadap Mefiboset. Nilai-nilai hidup dalam bentuk persahabatan yang tulus yang diteladankan Yonatan,  menjadi warisan berharga bagi Daud. Dan nilai-nilai itu ia pun dia wariskan kepada orang lain. 
Kematian sahabat sejati memang patut dikenang. Bahkan  jika perlu harus melampaui itu, yakni meneruskan apa yang pernah diperjuangkan sahabat yang telah meninggal. 
  Buku dan renungan ‘Dari Paradise ke Eden’, adalah sarana untuk mengenang sahabat seperti Yonatan,  Feliks dan sahabat sejiwa lainnya. Kenangan juga harus berwujud, yakni dalam bentuk perjuangan meraih mimpi dan menggenggam harapan.  Berhenti menangis lalu berjuang, itulah cara yang ampuh untuk menghargai sahabat.
Kematian  Feliks memang  membuat sahabat-sahabatnya menangis dan meratap. Raldi Gultom menangis sambil ingat tanah Papua, padahal dia asalnya dari Medan. Kerry Adriaan juga terbang ke Kalimantan untuk menghilangkan rasa dukanya, padahal rumahnya di Sindulang. Itulah perasaan ketika  ditinggalkan mati oleh teman. (Stenli Lalamentik)

32 Renungan Menyehatkan



Bijak Hari ini (Kutipan dan Karya) 


1. "Saya ingin memperlihatkan bahwa kekuatan manusia justru hancur oleh kelemahannya sendiri, yaitu kesombongan dan keserakahannya"
(James Cameron tentang Film Titanic)

 2. Agama tidak akan di kritik hanya sebagai pencari pembenaran jika agama mampu menjalankan fungsinya secara benar. Apa fungsi agama?
1. Memuliakan Allah
2. Mendidik umat untuk.
memuliakan Allah
3. Membuahkan ibadah itu
dalam bentuk perbuatan
baik kepada semua
ciptaan Allah.

3. Mengidolakan Seseorang Bukanlah Hal Tabu, Selama Itu Masih Dalam Batasan Sebagai Teladan Atau Yang Menginspirasi..... Mengidolakan Akan Menjadi Tidak Sehat Jika Sudah Bergeser Menjadi Pemujaan, Atau Bahkan Pengkultusan.... Mari Mengidolakan Manusia Secara Pantas

4. Ada sebuah frasa dalam bahasa latin yang berbunyi "Carpe Diem" Jika di terjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti 'Petiklah Hari"
Maksud ungkapan ini ialah "Manfaatkanlah hari. Jangan sampai ada hari yang terlewat tanpa arti. Jangan sampai ada hari yang menjadi sia-sia, karena kita hanya bermalas-malasan tanpa memberi isi pada hari itu. Jangan sampai ada hari yang menjadi rusak karena kita mewarnainya dengan rasa benci, iri atau cuma memikirkan diri sendiri. Jangan sampai ada hari yang terlewat tanpa sukacita"... Pengkhotbah Menulis,"...Jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya..." (Pkh.11:7)

5. Dalam Beriman Penting dan Perlu juga memakai Logika... Sebab Iman bukan hanya soal perasaan, tapi juga akal budi... Dan akal budi adalah cara kerja logika... Yang tidak gunakan akal budi namanya akal bulus..
Yesus berpesan "Kasihilah Tuhan Allah-mu dgn segenap hati,.... dan segenap akal budi...".

6. Maukah kau mencintaiku sepanjang sisa hidupku? Tidak! Aku akan mencintaimu sepanjang hidupku

7. Belajarlah Mengalah Sampai Tak Seorang Pun Yang Bisa Mengalahkanmu
Belajarlah Merendah Sampai Tak Seorang Pun Yang Bisa Merendahkanmu


8.  Jika Kami Bunga,
Engkau Adalah Tembok Itu
Telah Kami Sebar Biji-Biji
Suatu Saat
Kami Akan Tumbuh Bersama
Dengan Keyakinan
Engkau Harus Hancur
(Wijhi Thukul)
 

9. Hidup bukan ada dengan sendirinya. Ia ada karena diberikan oleh Tuhan. Tapi bukan hanya sekedar pemberian, melainkan juga penugasan. Tuhan menugaskan kita untuk menghidupi hidup ini..

10. Banyak Orang Ingin Merasakan Kemurahan Tuhan, Diberkati Hidupnya dan Diampuni Dosanya.... Tapi Tidak Semua Orang Ingin Memberitakan Kemurahan Tuhan Kepada Sesama.... Sesama Yang Berdosa, Terkadang Dianggap Layak Dihukum Tuhan.... Maka Jadilah, Tuhan Yang Peramah dan Pemurah Hanya Untuk Saya, Dan Tuhan Yang Pemarah Untuk Orang Lain.....

11. Bagi Orang Kurang Kerjaan, Menceritakan Keburukan Orang Lain Lebih Menyenangkan Dari Pada Melihat Kebaikannya.... Orang Malas Sulit Melihat Teladan, Karena Tidak Punya Motivasi

12. Perasaan rindu bisa menyenangkan. Berbahagialah orang yang merindu. Apa jadinya kalau hati kita begitu keras seperti batu sehingga tidak pernah bisa merindu. Perasaan rindu juga merupakan bagian dari iman.

13. Persoalan dan Masalah Dekat Dengan Tiap Orang.... Kita Punya Pilihan, Bersembunyi Atau Memperbaikinya... Tiap Pilihan Itu Punya Resiko... Pilihlah Yang Bisa Mendewasakan Kita

14. Kita Boleh Saja Merasa Tidak Bersaudara Dalam Iman, Tapi Kita Harus Bersaudara Dalam Kemanusiaan..

15. Tiap hari kita memakai akal. Untuk kegiatan yang paling sederhana pun kita berpikir, apalagi untuk urusan yang sulit. Dari pagi sampai malam kita membuat keputusan. Tiap keputusan adalah produk akal. Kita selalu berakal, tetapi belum tentu selalu berbudi. Akal kita selalu tajam, tetapi budi kadang-kadang menjadi tumpul sehingga yang ada bukanlah akal budi, melainkan akal bulus. Akal budi disertai pertimbangan masak-masak apa ini benar atau tidak. Sebaliknya, akal bulus hanya mempertimbangkan celah muslihat jahat. Supaya akal kita berfungsi sebagai akal budi, maka budi itu dari waktu ke waktu perlu diisi ulang atau diperbaharui. Tulis Paulus,".... berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna" (Roma 12:2).


16. Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya

17. Aku tidak menganggap doa dapat membuat segala sesuatu lebih mudah. Aku mengharapkannya dapat memberiku kekuatan batin untuk terus berjuang. Ketekunan adalah caraku menunjukkan iman.

18. Kita sering mengeluh kekurangan waktu.
Apakah kita kurang waktu?
bukan! Kita bukan kurang waktu, tapi kurang cakap mengatur waktu!
Kita menunda-nunda.
Padahal menunda bukan mengurangi pekerjaan, malah menambah pekerjaan.
Kunci produktivitas adalah kecakapan mengatur waktu atau time management.
Efisien dan efektif, langsung kerjakan dan selesai sampai tuntas.
Itu disiplin dan komitmen.
Pokoknya jangan menunda-nunda.
Kita perlu belajar dari seorg loper koran.
Cerah atau hujan, tiap hari loper langsung jalan.
Tidak ada tunda-tunda, apalagi sampai besok. Siapa yang mau koran basi?

19. Banyak kepercayaan menekankan kebesaran & kuasa Tuhan. Bagi kita, Tuhan itu mahabesar & mahakuasa, tetapi terutama Ia mahabaik. Ia menyelamatkan kita bukan dengan kebesaran-Nya (sebab Ia justru menjadi manusia) dan bukan dengan kuasa-Nya (sebab Ia justru mati tak berdaya di atas salib), tetapi dengan kebaikan-Nya (yg mengampuni orang berdosa & menolong orang yg lemah). Injil adalah undangan untuk menikmati kebaikan Tuhan itu. Orang yg percaya akan kebesaran & kuasa Tuhan tetapi kurang sadar akan kebaikan Tuhan bisa saja menjadi orang yg sangat beragama tetapi belum tentu orang baik. Jangan heran kalau banyak kejahatan justru berkaitan dengan orang-orang beragama. Kepercayaan akan kebesaran & kuasa Tuhan bisa menjadi dasar untuk selalu membesarkan diri & memupuk kekuasaan diri. Hasilnya adalah sikap hidup yang berbahaya bagi orang lain. Karena itu tidak cukup hanya mengagumi kebesaran Allah dan mengakui kuasa-Nya. Maka, "kecaplah dan lihatlah kebaikan-Nya", nikmatilah dan sadarilah betapa baiknya Tuhan itu!


20. Yang lebih dulu minta maaf adalah yang paling berani.
Yang lebih dulu memaafkan adalah yang paling kuat.
Dan... yang lebih dulu ikhlas adalah yang paling bahagia.

21. Dua hal yang menentukan siapa dirimu sebenarnya; kesabaran saat tidak punya apa-apa dan perilakumu saat sedang mempunyai segalanya

22. Hidup ini tidak pernah berhenti, selalu berjalan. Seiring berjalannya hidup ini, kesempatan pun datang silih berganti. Marilah kita memanfaatkan setiap kesempatan dengan membuat hidup kita lebih bermakna. Selamat menjalani sepanjang hari ini.....

23. Lakukan dari hati, bukan hanya karena ingin mendapat pujian. Itulah KETULUSAN.

24. Melayani tidak merendahkan atau meninggikan siapa pun, ini akan mensejajarkan kita sebagai manusia yang santun

25. Mari berjuang lebih keras & smart agar prestasi kita bisa lebih baik dari kemarin.

26. Jangan Pernah Menyerah Untuk Orang Yang Kita Cintai

27. Jika kamu tak berusaha mewujudkan mimpimu sendiri, maka kamu akan menghabiskan hidupmu hanya untuk melihat orang lain mewujudkan mimpinya.....


28. Orang yg menyerah dalam perjuangan sedang mengalami lupa, lupa bahwa dulu sangat bertekad untuk memperjuangkannya...


29. Perjuangkanlah hidupmu sampai semua orang yang mungkin pernah "meremehkanmu" akan melihat kebesaran Tuhan dalam perjuanganmu ;’)

30.  Menjadi orang yang berguna dan berbuah adalah tujuan hidup tiap orang. Oleh sebab itu, Kristus mengibaratkan kita sebagai pohon buah lalu menugaskan kita untuk berbuah. Sungguh membebsarkan hati, Kristus bukan cuma menugaskan, melainkan juga mendampingi bahkan menyatu dengan kita dalam melaksanakan tugas itu. Ucap-Nya, "Orang yang tetap bersatu dengan Aku dan Aku dengan dia, akan berbuah banyak...." (Yoh.15:5, BIMK).


31. Salah satu cara mempersiapkan hari esok adalah dengan mempergunakan segala sesuatu yang terjadi hari ini dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya. Kemudian buatlah strategi yang berbeda untuk meraih pencapaian yang lebih baik dari sebelumnya. Jalanilah segala sesuatu bukan sebagai rutinitas, tetapi sebagai aktivitas. Rutinitas tampak bergerak, tetapi tidak berpindah. Ciptakan keberhasilan kecil dalam setiap kesempatannya. Sekalipun demikian, jangan pernah memakai rumus atau resep yang sama untuk mendapatkan hasil berbeda.
Albert Einstein pernah berucap "Hanya orang gila yang melakukan hal yang sama untuk mendapatan hasil yang berbeda"...


32. Menjalani perputaran roda hidup dgn iman, bukan berarti bahwa iman kita kuat. Orang beriman bukanlah orang yg tidak suka cemas, melainkan orang yang dalam kecemasannya bertumpu pada Kristus. Orang beriman bukanlah orang yang imannya besar, melainkan orang yang bertumpu pada rahmat Tuhan yang besar. Iman kita kecil dan lemah, tetapi itu tidak soal, sebab yang penting adalah bahwa rahmat Tuhan itu besar dan kuat. Iman adalah berpegang pada Kristus dalam melangkah.

32 Kata Bijak

Kumpulan Kata-Kata Bijak
 (Kutipan dari berbagai sumber) 


1.Beranilah untuk mempertahankan apa yg Anda yakini walaupun itu tidak populer. Karena yg populer belum tentu baik.

2. Aku pun sadar kalau hidup tidak mudah, tapi tidak ada yg berkata bahwa hidup tidak berharga

3. Kalau pun ingin marah, cobalah marah dengan nasehat yang santun dan lembut. Ini mendamaikanmu

4. Disiplin itu adalah kebiasaan yang membuat hal biasa menjadi luar biasa

5. Jangan menilai pilihan orang jika kita tidak tahu alasan mereka memilih.

6. Kita semua memiliki tujuan hidup yg lebih besar daripada opini orang lain.

7. Tidak masalah jika ada yang tidak menyukai kebaikanmu, karena tidak semua orang memiliki selera yang tinggi

8. Aku pun terus membisikkan kepada hatiku bahwa ia lebih kuat daripada tantangan, bahkan lebih berharga daripada keinginan

9. Kekurangan itu bukan untuk ditutupi tapi untuk disadari dan diperbaiki. Dan kekurangan itu ada agar kita selalu rendah hati.

10. Ketika kamu jujur dengan dirimu sendiri, kamu akan mudah jujur dengan orang lain. Kejujuran membantumu jalani hidup yg lebih damai.

11. Seburuk apapun masa lalumu, kamu bisa jadi orang yg baru hari ini. Kamu bisa mengubah hidupmu, karena kamu bisa mengubah pikiranmu.

12. Arogansi muncul terlebih dulu setelah kegagalan

13. Engkau bukan membenciku. Engkau hanya membenci gambaran yg engkau bikin ttg diriku. Gambaran itu cermin dirimu, bukan aku. - Adonis

14. Banyak hal yang indah dan menakjubkan bisa kita saksikan, jika pekerjaan dilakukan dengan tanggung jawab, tulus dan ikhlas

15. Wanita ingin dicintai tanpa sebuah alasan, bukan karena mereka baik, atau pintar, atau cantik, tapi karena mereka adalah mereka

16. Yang berarti yang bisa menghargai.

17. Homo homini lupus. Artinya, manusia menjadi serigala terhadap sesamanya. Mungkin ucapan itu berlebihan. Mungkin juga ada benarnya. Bukankah kadang-kadang kita berperilaku seperti serigala terhadap orang lain, mengancam, menakut-nakuti, membentak, menjebak, memperdaya, mendengki dan merebut?
Kalau dipikir, sebenarnya mengerikan jika kita bersifat seperti serigala. Licin dan licik, kejam dan keji, buas dan beringas. Mengintai, menerkam dan mencakar. Kita menggigit dan memakan orang lain.
Apa jadinya kehidupan ini jika kita semua berperilaku seperti serigala?
Tetapi ada kebalikannya. Homo homini angelus. Artinya, manusia menjadi malaikat terhadap sesamanya. Dalam hal ini kita malah berupaya ingin menjadi malaikat. Kita selalu mau sempurna. Kalau perlu kita memakai topeng. Tampak saleh dan suci, taat dan takwa, bertarak dan bertapa. Orang lain rusak akhlak berdosa, tetapi kita sempurna beragama. Orang lain duniawi, kita surgawi. Dalam tiap tutur kata, nama Allah selalu dibawa-bawa. Pokoknya, berbagai upaya ditempuh supaya kita menjadi malaikat alias setengah Allah.
Nah, manakah yang kita pilih? Menjadi serigala atau menjadi malaikat? Tentu jangan jadi serigala. Kalau begitu, menjadi malaikat? Juga jangan! Mana bisa kita menjadi malaikat? Untuk apa pura-pura setengah malaikat?
Kalau begitu kita menjadi apa? Homo homini homo! Artinya manusia menjadi manusia terhadap sesamanya! Berperikemanusiaan. Berperasaan. Berbudi. Bertenggang rasa. Bermartabat luhur. Bermurah hati. Berjiwa besar. Bertanggung jawab. Bermasyarakat.
Bukan menjadi serigala, bukan pula menjadi malaikat. Menjadi sesama manusia sajalah.

18. Begitu eratnya hubungan doa dengan perbuatan, sehingga orang Kristen di abad Pertengahan mempunyai motto: Laborare est Orare (artinya: bekerja adalah berdoa), atau Laborare sit Orare (artinya: bekerja dapat berarti berdoa). Dalam hubungan ini, Kitab Sirakh, yang terdapat pada tambahan Alkitab Gereja Katolik Roma, membandingkan doa para tukang batu dengan doa para ahli Taurat. Tukang batu tidak mempunyai pengetahuan tentang Taurat. Mereka tidak dapat berdoa seperti ahli Taurat. Tetapi itu bukan berarti bahwa para tukang batu tidak berdoa. Hanya saja, bentuk doa mereka berbeda. Apa perbedaannya? Sirakh 38:34 mengatakan, “Ajaran dan hukum tidak dapat mereka terangkan, dan tidak mahirlah mereka dalam pepatah, ... dan doanya terletak dalam melaksanakan pertukangannya.”

19. "Kadang kita harus gagal untuk melihat keberhasilan.
Kadang kita ketakutan untuk melihat keberanian.
Semua itu untuk melihat sesuatu yang kamu percayai sebagai sebuah keyakinan... "
(Yumna dalam Film Aminasi Indonesia - Battle of Surabaya)

20. Mengubah orang lain itu sulit, sebaiknya meningkatkan kemakluman kita terhadapnya, dia yg sekarang adalah hasil dari sejarah panjang

21. Lemah lembut itu bukan kelemahan. Dibutuhkan kekuatan yg luar biasa untuk tetap anggun dalam dunia yg keras ini

22. Jika kamu bertemu orang yang bisa membuatmu tersenyum ketika orang lain membuat menangis, teruslah bersamanya.

23. Pemimpin dengan tangan besi mematikan nyali
Pemimpin yang dinabikan mematikan nalar....
(Sudjiwotedjo)

24. Kadang, kita rindu pada seseorang, bukan karena lama tak bertemu, tapi karena apapun yang kita lakukan, kita berharap dia yang dirindukan ada di samping.

25. Bahasa kasih adalah bahasa yg mempersatukan. Yang memperhatikan kepentingan bersama bukan hanya kepentingan diri sendiri.

26. Orang yg bekerja keras selalu mengalahkan orang berbakat yg bermalas-malasan.

27. Tiap babak baru dalam perjalanan hidup dan karier berisi banyak tanda tanya. Masa depan tidak menjamin kepastian. Kita jadi ragu-ragu, cemas dan takut. Pada saat seperti itu kita merasakan betapa besar artinya topangan orang lain. Pada saat seperti itu pemazmur berbisik meminta topangan dari Tuhan, "Topanglah aku sesuai dengan janji-Mu...." (Mzm.119:116).

28. Hidup yang bermutu menghasilkan pengalaman. Pengalaman menghasilkan sikap bijak. Pengalaman menjadikan orang berhati-hati dan mempertimbangkan segala sesuatu secara tenang dan matang. Ia melihat persoalan bukan hanya dari satu perspektif atau dari kepentingan sendiri, melainkan dari pelbagai perspektif atau dari kepentingan orang banyak. Ia tidak begitu saja maju dan menerjang. Jika perlu, ia bersedia berhenti dan menepi. seperti ditulis oleh pengarang Amsal, “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka” (Ams 22:3).

29. Tiada kesempatan yang lebih indah daripada kesempatan hidup bersama keluarga

30. Cinta adalah ilmu rasa, maka ia pun tak memiliki batas, terlebih kapasitas...

31. Apa yang terbaik adalah apa yg bisa membuat hati kita merasa nyaman karenanya.


32. Keputusan yang dibuat bersama, harus dikerjakan bersama-sama.....
Jangan meminta tanggapan dari orang yang senang menolak, lebih baik motivasi orang yang suka bekerja... Sebab yang suka bekerja dan bekerjasama adalah mayoritas...



Barnabas



Bersahabat Dengan Barnabas
Oleh : Stenli Lalamentik
Tidak ada kawan sejati,  tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Ungkapan ini sangat populer di dunia politik, terutama di Indonesia.  Partai politik  (Parpol)  yang   beroposisi  dengan  penguasa, bisa berputar haluan  menjadi koalisi  jika ada  kepentingan atau keinginan  yang  terpenuhi. Sebaliknya  koalisi  pun bisa pecah kongsi lalu menjadi oposisi  juga jika  ada kepentingan yang tidak sejalan.
‘Kepentingan’ apa dan untuk siapa, silakan tanya pada  ‘Anggota Dewan yang terhormat’.  Jawabannya pasti seragam  ‘ya,  kepentingan rakyatlah.’

 Tidak ada kawan, tidak ada musuh namun yang ada hanya kepentingan. Ungkapan ini   sebelum saya menjadi mahasiswa (Anggota Forkat 98), juga pernah  dialamatkan kepada Barnabas.  Tokoh  ini  bahkan  masuk   ‘blacklist’ sebagai pribadi dalam alkitab  yang tidak  saya suka.   Alasan ketidak-sukaan saya waktu itu cukup beralasan.  Entah dari mana sumbernya,  setahu saya, ketika  dia berpisah dari  Paulus, setelah keduanya bertengkar hebat,  Barnabas   berubah menjadi seorang ‘pengkhianat Kristen’ dengan  menulis Injil yang kini dikenal dengan nama Injil Barnabas.   Isi Injil ini  jauh beda dengan Injil Sinoptik dan injil Yohanes,  bahkan  dengan Injil-injil lain yang di tolak  dalam kanon alkitab.   Injil yang terdiri dari 222 Pasal itu,  bercerita tentang kisah Yesus namun untuk kepentingan agama Islam. 
Benarkah Barnabas  seorang  sahabat yang buruk, yakni hanya karena kepentingannya  tidak diindahkan Paulus langsung menjadi penghianat Kristen?  Sebelum menjawab ini, mari kita sedikit berkenalan dengan Barnabas.
Dalam alkitab pemilik nama ini hanya satu orang. Itu pun bukan nama sebenarnya atau hanya alias, sebab namanya yang sebenarnya  adalah Yusuf . Ia  seorang keturunan Lewi dari Siprus (Kis. 4:36).  Ia dipanggil Barnabas oleh para rasul, karena kemurahan hatinya,  menjual ladang miliknya lalu hasilnya  didiakoniakan untuk membantu orang-orang miskin (Lih. Kis. 4:32-37). 
Soal gaya hidupnya, Lukas memberi kesaksian bahwa Barnabas ‘orang yang baik hati, dikuasai Roh Allah serta sangat percaya kepada Tuhan’ (Kis.11:24, BIMK).  Kesaksian Lukas ini bisa disimpulkan bahwa Barnabas adalah pribadi yang  hangat dan bersahabat. 
Barnabas sangat tulus dalam bersahabat dan tidak setengah-setengah jika menolong orang lain.   Paulus (Nama Yahudi, Saulus) orang yang  merasakan indahnya diterima sebagai sahabat oleh Barnabas. Disaat dia  telah bertobat, lalu  memberanikan diri menemui  orang Kristen lainnya  di Yerusalem,  bukannya diterima sebagai saudara,  justru Paulus di tolak. Mereka menolak, karena  takut dengan  trackrecord Paulus yang buruk, yaitu  penganiaya orang Kristen yang kejam. Paulus mungkin  kecewa dengan penolakan itu. Tapi kekecewaan itu berubah menjadi harapan,  saat Barnabas  merangkul dia. Bahkan Barnabas berhasil meyakinkan para Rasul dan orang percaya lainnya, kalau  Paulus  benar-benar telah bertobat (Kis. 9:26-27). Tidak hanya sampai disitu, disaat potensi Paulus kurang diperhatikan para Rasul dan namanya hampir terlupakan, Barnabas justru mencari  dan mengikut-sertakannya  dalam kegiatan penginjilan di Anthiokia (Kis. 11:25).  Barnabas menjadi mentor bagi Paulus, dan yang paling utama keduanya menjadi sahabat baik. Dibawah didikan Barnabas, Paulus pun menjadi seorang  penginjil besar, bahkan lebih dikenal dan dikenang dibandingkan Barnabas.
Sayang kerja-sama pelayanan yang terbangun rapi dan saling mengisi yang diteladankan oleh kedua rasul ini berakhir. Keduanya terlibat dalam persoalan yang prinsipil, ‘perselisihan yang tajam’ (Kis.15:39). Persoalannya  yakni  tentang  bolehkah si keponakan Barnabas, yakni  Markus (Nama Yahudi, Yohanes) ikut atau tidak dalam perjalanan penginjilan kedua.  Dalam perjalanan penginjilan pertama Barnabas dan Paulus (mulai Pasal 13 dibalik menjadi Paulus dan Barnabas), Markus ikut  membantu  keduanya. Namun Paulus menjadi kecewa terhadap Markus, ketika  dia lebih memilih kembali ke Yerusalem dari pada melanjutkan perjalanan penginjilan  ke Perga di Pamfilia  kini wilayah Turki (Kis. 13:13). Bagi Paulus tindakan Markus sama dengan pengunduan diri. Sebaliknya Barnabas dengan  wataknya  yang baik hati itu,  berkeras kalau Markus bisa ikut.  Perbedaan pendapat itu pun berujung pada putusnya hubungan kerja-sama, Barnabas dan Paulus. Keduanya berpisah, Barnabas   kembali ke kampung halamannya, Siprus  bersama Markus, dan Paulus  berjalan bersama Silas. Setelah pertengkaran itu, nama  Barnabas dan Markus  hilang dalam cerita Kisah Para Rasul.
Kini menjadi  pertanyaan, apakah perbedaan pendapat antara barnabas dan Paulus ini membuat keduanya bermusuhan?   Sepintas jika dihubungkan dengan munculnya  Injil Barnabas,  jawabannya otomatis  benar.   Barnabas seorang penganut ‘tidak ada kawan, tidak ada musuh namun yang ada hanya kepentingan’. Yang dikemudian hari menjadi ‘pengkhianat’ bagi orang Kristen karena  menulis suatu Injil  yang lain.  Injil yang berita utamanya bukan lagi  soal karya pelayanan Tuhan Yesus, tapi  tentang  kedatangan  Muhammad, Nabi orang muslim.   
 Benarkah   Barnabas  orang seperti itu?  Jika dirinci  kembali watak Barnabas sejak kemunculan pertamanya dalam Alkitab, agaknya sangat mustahil  kalau dia tipe orang yang mudah bermusuhan apalagi menjadi seorang pengkhianat.
Kitab Kisah Para Rasul  memang tidak lagi memberikan keterangan lebih lanjut soal  hubungan Barnabas dan Paulus, apakah pernah bertemu atau tidak  pasca perpisahan itu.  Tapi  dalam surat-suratnya,  Paulus  beberapa kali menyebut nama Barnabas dengan penuh rasa hormat. Misalnya dalam I Kor. 9:6,  Paulus menyebut nama Barnabas, yang dijadikan contoh sebagai pelayan yang mencari nafkahnya sendiri atau tidak membebani gereja. Atau di Kolose 4:10, Dalam  salam penutup kepada Jemaat kolose,  Paulus menulis nama Barnabas, untuk menjelaskan siapa Markus.  Bahkan akhirnya perlakukan Paulus terhadap Markus ikut berubah ketika dia melihat ada perubahan dalam diri Markus. Paulus meminta Timotius  menjemput Markus, karena dia membutuhkan pelayanan dari Markus.  Perubahan Markus bisa terjadi karena  dia mengikuti Barnabas. Ingat Markus inilah yang dikemudian hari menulis salah satu Injil Sinoptik.
Beberapa uraian ini bisa memberikan penjelasan, meski hubungan kerja-sama Paulus dan Barnabas pecah,  tapi persahabatan keduanya tidak. Paulus menghormati persahabatan itu, karena pasti Barnabas juga sama.
Lalu bagaimana dengan Injil Barnabas?  Injil ini tidak ada hubungan dengan Barnabas.  Nama Barnabas sengaja di catut oleh penulis Injil itu, dengan memakai namanya sebagai penulis, karena dia melihat ada cela  untuk menggunakan  nama itu. Cela itu ialah pertengkaran Paulus dan Barnabas, yang membuat nama Barnabas hilang dalam Kisah Para Rasul. Selain itu Injil ini muncul pada  abad 16 dan ditulis dalam bahasa Spanyol dan Italia.
Jadi  jelas, Barnabas bukan penganut ‘tidak ada kawan sejati,  tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan’.  Sikap dan wataknya  yang rendah hati, murah hati  dan baik hati, membuat ia dikenang sebagai seorang sahabat yang patut diteladani. Beda pendapat dengan Paulus bukan berarti keduanya langsung bermusuhan, melainkan saling menghormati. Inilah salah satu inti dari persahabat, kita boleh  mengungkapkan atau mengeluarkan perasaan kita apa adanya, tanpa harus menunjukkan sifat munafik, atau pasang senyum buatan. Beda pendapat itu biasa , tapi  jangan sampai harus bermusuhan, mendendam apalagi mencelakai.  Untuk bersahabat, kitalah yang harus beritikad menunjukkan kebaikan hati, bukan menunggu orang yang mulai berbaik hati. Seperti Barnabas, yang lebih dulu merangkul Paulus. Barnabas seperti itu, karena ia mengharagi namanya. Namanya adalah hadiah yang diberikan oleh orang-orang yang merasakan pertolongannya.  Nama itu  berarti ‘anak penghiburan’ atau ‘orang yang menghibur dan menegur’ (Parakleis). Nama yang dalam bahasa Aram juga berarti pendamaian. Menarik, nama Barnabas sepadan dengan peran  Roh Kudus yang kedatangan-Nya dijanjikan Tuhan Yesus, dalam Injil Yohanes 15:26, yakni Roh Penghibur. (Amin)